SANGATTA,Swarakaltim.com – Suasana Gedung DPRD Kutai Timur (Kutim) terasa berbeda, Selasa (18/8) pagi. Bukan suara rapat atau pembahasan anggaran yang terdengar, melainkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menggema dari ruang gedung wakil rakyat tersebut.
Sebanyak 38 penghafal Al-Qur’an secara bergantian melantunkan 30 juz Al-Qur’an secara bil ghaib atau hafalan. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.00 Wita itu menjadi khataman Al-Qur’an bil ghaib 30 juz pertama yang digelar di Gedung DPRD Kutim.
Suasana semakin khidmat ketika lantunan ayat demi ayat dikumandangkan. Nuansa religius begitu terasa, bahkan menggambarkan suasana kawasan sekitar Masjidil Haram yang dipenuhi gema bacaan Al-Qur’an.
Para peserta datang dari berbagai wilayah dan latar belakang. Mereka berasal dari pondok pesantren, taman pendidikan Al-Qur’an (TPA), masjid, hingga masyarakat dari Sangatta, Bengalon, Rantau Pulung dan wilayah lainnya.
Kegiatan yang digagas Sekretaris DPRD Kutim Jainuddin tersebut tidak sekadar menjadi agenda keagamaan. Khataman juga menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan ulama, santri, hafiz dan hafizah, pengasuh pesantren, pengelola TPA, pengurus masjid serta masyarakat.
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus menjadi ungkapan syukur atas HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Acara dibuka Sekretaris DPRD Kutim Jainuddin. Nuansa keilmuan Islam semakin terasa dengan hadirnya Prof. Dr. Habib Alwi bin Hamid bin Syihab, guru besar ilmu hadis dari Hadramaut, Yaman, yang memberikan tausiyah kepada peserta dan undangan.
Kehadiran ulama dari Hadramaut tersebut dinilai memberikan warna tersendiri. Selain memperkuat pesan keagamaan, momentum itu juga menjadi jembatan silaturahmi dan hubungan keilmuan antara masyarakat Kutim dengan salah satu kawasan yang dikenal memiliki tradisi keilmuan Islam yang kuat.
Jainuddin mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari syiar Islam sekaligus wujud rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, momentum tersebut juga penting untuk memperkuat persaudaraan, silaturahmi dan kehidupan keagamaan di tengah masyarakat.

“Semoga seluruh doa dan harapan agar bangsa Indonesia senantiasa berkah, makmur, aman serta tenteram dikabulkan Allah SWT. Semoga acara berjalan lancar dan membawa keberkahan bagi seluruh warga serta para tokoh masyarakat yang hadir,” ujar Jainuddin.
Sementara itu, Ketua DPRD Kutim Jimmi ST MT menilai ulama, santri, hafiz dan hafizah memiliki peran penting dalam membentuk moral serta akhlak masyarakat.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur dan kemajuan fisik. Kemajuan tersebut harus berjalan beriringan dengan pembangunan sumber daya manusia yang memiliki landasan moral dan nilai keagamaan.
“Penguatan nilai agama perlu berjalan seiring dengan pembangunan Kutai Timur, termasuk dalam mengelola potensi sumber daya alam daerah agar memberikan manfaat yang luas dan keberkahan bagi masyarakat,” kata Jimmi.
Ia menegaskan, DPRD Kutim mendukung berbagai upaya yang mendorong penguatan kehidupan keagamaan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia.
“Kehadiran para ulama, para hafiz dan hafizah menjadi bagian penting dalam membangun generasi Kutai Timur yang berakhlak dan memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an. Kami pimpinan dan anggota DPRD Kutim mendukung upaya penguatan kehidupan keagamaan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia,” ujarnya.
Politikus PKS itu juga menyebut kehadiran Prof. Dr. Habib Alwi dari Hadramaut memberikan nilai tersendiri bagi kegiatan tersebut. Menurutnya, selain mempererat silaturahmi, tausiyah yang disampaikan diharapkan dapat menjadi motivasi bagi generasi muda Kutim untuk terus mendalami Al-Qur’an, hadis dan ilmu-ilmu keislaman.
Khataman 30 juz secara bil ghaib itu pun menjadi catatan tersendiri. Untuk pertama kalinya, gedung yang selama ini identik dengan aktivitas politik dan pembahasan kebijakan daerah tersebut dipenuhi lantunan ayat suci Al-Qur’an.
Pesannya pun sederhana namun kuat: pembangunan Kutai Timur tidak hanya membutuhkan gedung, jalan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga generasi yang memiliki akhlak, ilmu dan kecintaan terhadap Al-Qur’an.(fan)