FOTO: Wali Kota Bontang Neni Moernaeni.
BONTANG, Swarakaltim.com – Pemerintah Kota Bontang mulai melirik pemanfaatan air laut sebagai sumber alternatif air bersih di tengah ancaman krisis air. Rencana tersebut mendapat respons dari investor asal China yang tertarik menanamkan modal di sektor desalinasi.
Informasi tersebut disampaikan Wali Kota Bontang Neni Moernaeni kepada awak media usai melaksanakan Salat Istisqa, Sabtu (5/9/2026) pagi.
Neni mengatakan, pihaknya telah menerima penawaran dari perusahaan asal China yang tertarik berinvestasi dalam pengelolaan air laut menjadi air bersih melalui teknologi desalinasi.
“Sudah ada yang kirim penawaran. Perusahaan asal China. Mereka tertarik untuk investasi desalinasi. Apalagi Bontang terkenal dengan mayoritas wilayahnya adalah lautan,” ucap Neni.
Neni menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, pemanfaatan air laut dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Bontang.
Selama ini, Bontang masih mengandalkan sumber air bawah tanah melalui sumur dalam (deep well). Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi apabila pemanfaatannya terus meningkat dalam jangka panjang.
Salah satu risiko yang perlu diperhatikan ialah potensi penurunan muka tanah akibat pengambilan air bawah tanah secara terus-menerus.
“Coba saja dihitung, per hari bisa 10 juta kubik yang dipakai. Nah, desalinasi ini untuk jangka panjang. Ini kita akan panggil investor untuk memaparkan rencana mereka,” sambungnya.
Selain mencari sumber air alternatif, Pemkot Bontang juga menyiapkan langkah untuk menjaga daerah resapan air. Salah satunya melalui penggalakan penanaman pohon serta mempertahankan ruang terbuka hijau dengan target lebih dari 30 persen.
Sementara itu, pembatasan distribusi air juga dilakukan melalui sistem penggiliran oleh Perumda Air Minum untuk mengantisipasi berkurangnya pasokan.
Kondisi tersebut dilakukan setelah pasokan air disebut mengalami penurunan hingga sekitar 50 persen.
Neni menegaskan, penggiliran distribusi menjadi langkah mitigasi agar cadangan air bawah tanah tidak terus terkuras selama musim kemarau belum berakhir.
“Kalau sekarang deep well kita masih dalam batas aman-aman saja, tetapi kita harus melakukan giliran, antisipasi, mitigasi. Kalau tidak, kan habis juga,” pungkasnya.(Adv/rzky)