TANJUNG REDEB, Swarakaltim.com – Mendukung program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau dalam memajukan perekonomian para petani, PT Berau Coal melalui program pengembangan kakao yang menajadi Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) perusahaan tersebut di pilar ekonomi yang dijalankan sejak tahun 2024, dengan menjangkau sekitar 1500 petani di Kabupaten Berau.
Sebagaimana perjalanan hidup salah satu masyarakat Bumi Batiwakkal bernama Nursalim, warga Kampung Maluang, Kecamatan Gunung Tabur berkat program PPM PT Berau Coal berhasil sukses dalam berkebun kakao, sehingga perlahan mampun membangun sumber penghidupan bagi keluarganya.
Di tengah kesibukannya berkebun, saat pria 40 tahun itu di tandangi yang sedang memangkas ranting-ranting pohon kakao yang tumbuh subur di kebunnya di Kampung Maluang, dimana tidak jauh dari kediamannya, tempat Nursalim tinggal bersama istri dan tiga anak perempuannya menyempatkan waktu untuk ngobrol dengan media.
Menurutnya, lebih dari 2 dekade dirinya hidup dengan bertani.
“Selama saya bertani sering menanam hortikultura. Pernah juga kakao, tetapi karena keterbatasan modal dan tidak bisa membeli bibit, saya lebih banyak bertani sayur-sayuran,” tuturnya.
Keterbatasan modal sempat membuat Nursalim menahan mimpinya bertani kakao. Hingga pada 2025, kesempatan itu kembali terbuka ketika Nursalim mengikuti Program Pengembangan Kakao, yang menajadi Program PPM PT Berau Coal di pilar Ekonomi, untuk mendukung transformasi ekonomi pascatambang sekaligus pengembangan kakao sebagai komoditas unggulan Kabupaten Berau.
Melalui program tersebut, Nursalim memperoleh 800 bibit kakao, pupuk, dolomit, obat pengendali hama, dan kompos. Ia juga mendapatkan bibit alpukat, kelapa, dan petai yang ditanam sebagai tanaman penaung. Tidak hanya bantuan sarana produksi, Nursalim juga difasilitasi mengikuti sekolah lapang kakao untuk mendapatkan bekal mengenai teknik budidaya dan perawatan tanaman oleh PT Berau Coal.
“Saya sangat terbantu dengan adanya bantuan dari Berau Coal. Kami yang termasuk petani golongan bawah belum mampu, untuk membeli bibit kakao, pupuk, dan lain-lain,” katanya.
Sepuluh bulan terhitung, tanaman kakao Nursalim tumbuh subur dan beberapa bahkan mulai berbuah. Namun, buah yang muncul pada tanaman muda itu harus dipangkas karena batangnya belum cukup kuat untuk menopang buah, ini menunjukan kakao yang Nursalim tanam tumbuh dengan baik.
Sambil menunggu tanaman kakao memasuki masa produktif, dirinya tidak membiarkan lahannya menganggur. PT Berau coal kembali memberikan benih jagung yang ditanam di lahannya seluas setengah hektare. Selain menjadi tanaman penaung, jagung menjadi sumber pendapatan sementara.
Sehingga dalam 10 bulan, Nursalim telah empat kali panen dengan hasil sekitar 40 karung dalam setiap panennya.
“Dari menanam jagung saja, dalam 10 bulan ini saya sudah empat kali panen, menghasilkan sekitar 40 karung jagung dalam satu kali panen, ini sangat membantu ekonomi keluarga saya” ungkapnya.
Cara Nursalim mengelola kebun pun tidak berhenti pada kakao dan jagung. Ia menerapkan konsep pertanian terpadu atau integrated farming dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
Nursalim berternak Kambing milik tetangganya, yang kotoran kambing tersebut digunakan sebagai pupuk tanaman kakao, sementara daun tanaman penaung dimanfaatkan sebagai pakan kambing.
“Jadi saling berkesinambungan, sehingga kami tidak bergantung pada pupuk kimia,” jelasnya.
Ia juga mengembangkan budidaya lele jumbo dari bantuan 1.000 benih yang diberikan PT Berau Coal. Setelah dikembangkan dan dijual, hasilnya digunakan untuk membeli pakan sekaligus menambah 3.500 bibit ikan.
“Kalau kita konsisten, sebenarnya bantuan itu cukup sekali diberikan dan kita bisa kembangkan sendiri, tidak harus dibantu terus-menerus,” ujarnya yakin.
Bagi Nursalim, kemandirian menjadi tujuan dari seluruh proses yang dijalaninya. Ia bersyukur atas pendampingan yang diberikan selama prosesnya menanam kakao, mulai dari persiapan lahan, memantau pertumbuhan tanaman hingga kebutuhan petani.
“Alhamdulillah, terima kasih PT Berau Coal untuk pendampingannya luar biasa. Tim lapangan yang memantau pertumbuhan kakao, memantau kebutuhan kami para petani selama masa pengembangan kakao ini,” paparnya.
Dirinya berharap pendampingan terus dilakukan hingga para petani mampu menghasilkan dan berdiri secara mandiri. Menurutnya, tanah Berau juga memiliki potensi yang baik untuk kakao. Dari pengalamannya bertani di luar Berau, pertumbuhan kakao selama 10 bulan tidak sebaik yang ia lihat saat ini.
“Sepengalaman saya di luar Berau, 10 bulan masa tanam kakao itu tidak seperti ini pertumbuhannya. Namun, di Berau 10 bulan kakao bisa tumbuh lebih cepat, selain faktor konsisten, faktor kondisi tanah diberau sangat mendukung untuk budidaya kakao” tuturnya lagi.
Melihat potensi tersebut, Nursalim mengajak masyarakat Berau lainnya untuk tidak ragu mulai membudidayakan kakao. Sebab, peluang pengembangan kakao terbuka lebar selama dilakukan dengan tekun dan konsisten. (Nht)