Tekan Pengetapan BBM dan Pantau Ritasi Armada Sampah, DLH Samarinda Pasang GPS Tracker Hingga Sensor Digital

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda resmi mentransformasi sistem pengawasan operasional armada pengangkut sampah berbasis digital. Langkah modernisasi ini ditempuh guna memastikan ketepatan jadwal pengangkutan sampah sekaligus memangkas potensi penyimpangan dan pengurasan bahan bakar minyak (BBM) di lapangan.

Pengawasan digital tersebut memadukan enam mekanisme kontrol utama, mulai dari pemasangan GPS tracker, teknologi sensor konsumsi BBM, sistem pembayaran Radio Frequency Identification (RFID), hingga integrasi CCTV dan alat pemindai wajah (face recognition) di area Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Muhammad Taufiq Fajar, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Samarinda mengungkapkan, saat ini sebanyak 30 unit dari total 73 unit armada pengangkut sampah telah dilengkapi perangkat GPS tracker hasil kerja sama dengan pihak ketiga. Teknologi ini memungkinkan pergerakan armada dipantau secara langsung (real-time) melalui dashboard pusat kendali.

“Saat ini sudah 30 unit kendaraan yang dilengkapi perangkat tersebut sehingga pergerakannya dapat dipantau secara real-time. Penggunaan BBM secara normal akan terlihat dari grafik yang bergerak turun melandai. Sebaliknya, jika ada penurunan drastis dalam waktu singkat, itu menjadi indikasi kuat adanya pengurasan atau pengetapan BBM,” ujar Muhammad Taufiq Fajar.

Selain pemantauan riwayat BBM, mekanisme transaksi pembelian bahan bakar di SPBU kini sepenuhnya dialihkan menggunakan kartu RFID non-tunai (cashless). Kebijakan ini memastikan saldo anggaran operasional hanya dapat ditukarkan secara rinci untuk pengisian bahan bakar kendaraan dinas bersangkutan.

Dari sisi efektivitas pengangkutan, DLH memperketat pengawasan ritasi atau frekuensi pengangkutan sampah menuju TPA. Setiap sopir armada dibebani kewajiban ritasi antara dua hingga empat kali sehari tergantung jenis armada serta jarak tempuh wilayah operasional.

Untuk memvalidasi pemenuhan target tersebut, para pengemudi diwajibkan melakukan pemindaian wajah serta terekam kamera CCTV setiap kali memasuki gerbang TPA. Pemantauan visual ini sekaligus berfungsi mengontrol kesesuaian volume muatan sampah yang diangkut.

Berbagai pengetatan kontrol tersebut terbukti membuahkan hasil positif. Hingga Juni 2026, DLH Samarinda mencatat efisiensi penggunaan BBM telah menembus angka 8 persen berdasarkan perhitungan volume liter.

Taufiq menggarisbawahi bahwa tolok ukur efisiensi dihitung murni berdasarkan kuantitas liter BBM, bukan besaran nilai anggaran rupiah. Pasalnya, lonjakan harga bahan bakar industri jenis Dexlite yang naik signifikan dari kisaran Rp13.000 menjadi Rp24.000 hingga Rp25.000 per liter turut mempengaruhi total biaya operasional daerah.

Guna mengoptimalkan kinerja pelayanan ke depan, DLH Samarinda menargetkan efisiensi konsumsi BBM dapat melampaui angka 10 persen pada akhir tahun 2026, seiring perluasan pemasangan perangkat sensor digital ke seluruh unit armada secara bertahap.

“Pengendalian efisiensi BBM ini kami lakukan secara bertahap dan tidak langsung siap di awal tahun. Mudah-mudahan hingga akhir 2026 target efisiensi bisa menembus di atas 10 persen,” pungkasnya.(DHV)

www.swarakaltim.com @2024