Lestarikan Budaya Lokal, Bupati Mahulu Buka Hudoq Pekayang Lirung Ubing

Loading

MAHAKAM ULU, Swara Kaltim – Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat adat suku dayak etnis Bahau Busang dan Kayan diwilayah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Setiap tahun, kedua etnis dayak itu menggelar ritual adat Hudoq Pekayang. Pegelaran adat yang sangat sakral ini dilaksanakan saat menyambut musim tanam padi disetiap bulan oktober.

Ini yang dilaksanakan kedua etnis dayak itu yang berada di 13 Kampung wilayah hulu riam tepatnya di Kecamata Long Pahangai. Kali ini hudoq pekayang 2019 terpusat di Kampung Lirung Ubing, dimana pegelaran adat tersebut berlansung selama 2 hari sejak Kamis 17 dan berakhir harini tadi Jumat (18/10).

Pegelaran Hudoq Pekayang 2019 itu secara resmi dibuka oleh Bupati Mahulu, Bonifasius Belawan Geh, dihadiri Wabup Y Juan Jenau, Sekdakab Yohanes Avun, Ketua TP-PKK Yovita Bulan dan Wakil Ketua Martina Luaq yang juga sebagai anggota DPRD Mahulu.

Pemukulan Tuvung oleh Bupati Mahulu Bonifasius Belawan Geh dan Wabup Y Juan Jenau sebagai tanda dibukanya pegelaran Hudq Pekayang 2019 di Lirung Ubing, Kecamatan Long Pahangai

Nampak hadir Ketua DPRD Mahulu Novita Bulan serta anggota DPRD lainnya yaitu, Weni, Uling, Serlili, A Kelawing Bayau, Bo Imang, Dalmasius, Vedelis Tekwan Kuai, Jaang, Geh Luhat serta kepala OPD dan Forkopimda dan pejabat lainnya di ke Pemerintahan Mahulu.

Dalam sambutannya, Bupati Mahulu Bonifasius Belawan Geh mengatakan, kegiatan ini menjadi tradisi turun temurun suku dayak yang notabene hidup di pesisir sungai mahakam dan dilaksanakan setiap tahunnya dimusim menanam padi.

“Pelaksanaan ritual Hudoq Pekayang 2019 ini, merupakan seni budaya menandakan rasa kerjasama dalam bergotong royong. Selain itu, juga sebagai bukti rasa cinta kita kepada budaya yang sangat erat sehingga terus kita lestarikan disepanjang jaman,” ungkap Bupati.

Tampak Ketua DPRD Mahulu bersama Sekdakab dan Anggota DPRD Mahulu lainnya, antusias mengikuti tarian ngarang aru dalam pegelaran Hudoq Pekayang 2019 terpusat di lapangan Kampung Lirung Ubing

Melalui ritual tersebut, Bupati Boni panggilan akrabnya berpesan kepada instansi terkait, untuk terus menamkan seni kebudayaan itu kepada generasi muda agar terus mencintai seni budaya tradisional ini tidak punah. Sebab, ritual Hudoq Pekayang merupakan bagian dari seni Dayak Bahau Busang dan Kayan.

“Pelestarian seni budaya lokal harus kita lestarikan kepada generasi sejak dini. Sehingga kedepannya dapat digunakan sebagai ajang komunikasi budaya sosial antar masyarakat Mahulu. Selain itu, Dinas Parawisata Pemuda dan Olahraga dapat mempromosikannya agar diketahui oleh dunia,” pesan Boni.

Selain itu, Boni sangat mengharapkan kepada seluruh masyarakat di 5 Kecamatan se-Mahulu itu, agar mampu melastarikan bagian dari budaya adat lokal yang dinilai positif. Sehingga dapat memperkuat landasan seni budaya dayak mahulu di masa mendatang.

Sekitar 2500 lebih penari hudoq dari 13 kontingen kampung di kecamatan long pahangai mewarnai pegelaran ritual adat Hudoq Pekayang 2019 di Kampung Lirung Ubing

“Mahulu penuh dengan adat tardisional dan berbagai macam suku yang tumbuh dengan budaya keanekaragaman. Namun tidak menutup kehadiran percampuran antara budaya lokal lainya, sehingga lebih tumbuh dijaman moderenisasi tanpa harus meninggalkan jati diri kita sebagai warga dayak, “pungkas Boni.

Setelah resmi membuka pegeleran hudoq pekayang itu, ditandai pemukulan tuvung oleh Bupati dan Wabup, kemudian rombongan pejabat daerah secara beriringan bersama penari hudoq, menuju lapangan yang berlokasi disamping Lamin Adat Kampung Lirung Ubing untuk menari ngarang aru bersama kontingen hudoq dari 13 Kampung di Kecamatan Long Pahangai.

Sebelumnya, Bupati bersama rombongan anggota DPRD beranjak dari Ibukota Mahulu di Ujoh Bilang pada pukul 9.00 Wita, menggunakan puluhan transportasi jalur sungai yaitu Speedbout dengan jarak tempuh sekitar 4 jam dengan melewati puluhan jeram atau biasa disebut riam untuk tiba di kampung hulu riam tersebut.

Untuk diketahui, Hudoq Pekayang merupakan pegelaran rutin dilaksanakan setiap tahunnya oleh kedua suku dayak bahau busang dan kayan yang tinggal diwilayah kampung, yaitu, Datah Naha, Delang Kerohong, Lirung Ubing, Liu Mulang, Long Isun, Long Lunuk, Long Lunuk Baru, Long Pahangai I, Long Pahangai II, Long Pakaq, Long Pakaq Baru, Long Tuyoq, Naha Aruq.

Selain itu, hudoq dikenang untuk jasa para leluhur mereka di alam nirwana. Kemudian diyakini membawa berkah saat berladang untuk mengawasi anak cucunya dapat menghasilkan panen padi yang melimpah.

Penulis : Alfian

Editor   : Redaksi