Belajar Tatap Muka selama Pandemi, Malaysia sampai Swiss

JAKARTA, Swarakaltim.com – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyatakan aturan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi masih berdasarkan Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan mengutamakan kesehatan dan keselamatan semua insan pendidikan dan keluarganya.

Pembelajaran di masa pandemi akan berlangsung secara dinamis menyesuaikan risiko kesehatan dan keselamatan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, yakni PPKM, baik PPKM Mikro maupun PPKM Darurat.

Sementara itu di beberapa negara, belajar tatap muka lewat pembukaan sekolah kembali sudah dilaksanakan. WHO Western Pacific dan UNICEF East Asia Pacific menyebutkan pembukaan kembali sekolah secara aman menjadi prioritas penting, terutama memasuki tahun kedua pandemi Covid-19.

“Kehadiran di sekolah sangat penting untuk pendidikan anak-anak. Biaya penutupan jangka panjang baik untuk masing-masing anak dan masyarakat terlalu besar,” seperti yang dikutip dari artikel berjudul “School reopening can’t wait” di laman WHO Western Pasific.

Seperti apa dinamika belajar tatap muka di berbagai negara? Berikut rangkumannya.

Malaysia
Dilansir dari The Straits Times, Sebanyak 5 juta siswa di Malaysia belajar tatap muka kembali ke sekolah pada Senin (5/4/2021). Ini kali pertama siswa Malaysia sekolah tatap muka setelah mengalami kasus Covid-19 gelombang tiga.

Selain siswa sekolah menengah, murid pre-school dan SD mulai belajar tatap muka satu minggu kemudian. Siswa mengenakan masker dan face shield selama sekolah tatap muka, menjaga jarak, dan menerapkan protokol kesehatan.

Sejak belajar tatap muka kembali digelar, sejumlah kasus Covid-19 di sekolah muncul di Klang Valley, Kelantan, dan Penang. Dikutip dari Channel News Asia, pada Mei 2021, sekolah di Malaysia kembali menerapkan home-based teaching and learning atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebelum libur tengah tahun.

Thailand

Dilansir dari laman UNICEF, siswa di Thailand kembali belajar tatap muka di sekolah sejak Juli 2020. Siswa melakukan pengecekan suhu sebelum naik bus sekolah, pengecekan suhu oleh guru saat masuk sekolah, membersihkan tangan dengan hand sanitizer beralkohol, dan menerima stempel di lengan sebagai tanda boleh masuk kelas.

Seperti sekolah tatap muka di Indonesia, belajar tatap muka di Thailand juga mewajibkan jarak antar meja, siswa belajar dengan mengenakan masker. Sejumlah siswa menuturkan dirinya lebih memilih belajar di sekolah daripada di rumah karena bisa bertemu dengan teman.

“Aku sebelumnya belajar dari ponsel saat belajar di rumah. Aku tidak belajar sesuai jadwal sekolah karena harus membantu orang tua bertani. Aku akan mengulang pelajaran dan belajar di malam hari. Kadang ada masalah dengan koneksi internet saat belajar dari ponsel, kata Mild, siswa kelas 9 SMP, dikutip dari laman UNICEF (8/9/2020).

Dikutip dari Reuters, Thailand kembali memberlakukan PJJ pada April 2021 setelah kasus Covid-19 gelombang ketiga.

Australia
Dikutip dari laman Health Direct Australia, siswa Australia belajar tatap muka dengan mengenakan masker di dalam ruangan dan luar ruangan, termasuk di transportasi publik. Pengenaan masker tidak berlaku untuk orang atau siswa yang melakukan olahraga keras di dalam atau di luar ruangan.

Seluruh siswa sekolah di Australia diharapkan datang belajar tatap muka kecuali memiliki badan atau keluarga rentan terpapar risiko penyakit. Sementara itu, perguruan tinggi dapat menentukan apakah mahasiswa harus datang belajar tatap muka atau kuliah online.

Sementara itu di Sidney, pemberlakuan lockdown berlaku hingga tengah Juli 2021. Kebijakan ini berimbas pada ditiadakannya sekolah tatap muka hingga 12 Juli 2021.

Jepang
Dilansir dari The Japan Times, sekolah di Jepang menerapkan belajar tatap muka lebih dari setahun selama pandemi berlangsung. Sementara itu, beberapa universitas menerapkan sejumlah kelas online bagi mahasiswanya.

Selama sekolah, siswa mengenakan masker sepanjang waktu, makan bekal tanpa berbicara, dan menjaga semua barang higienis. Siswa juga mengikuti kelas olahraga seperti lompat jauh. Selama belajar tatap muka sepanjang tahun, kelas virtual ditiadakan.

Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Jepang mencoba mendorong digitalisasi kelas lewat inisiatif GIGA School. Menurut data Kementerian, 97,6% pemerintah daerah di penjuru negara sudah siap menyelesaikan distribusi alat belajar digital untuk siswa pada akhir Maret. Dengan demikian, online teaching tetap disiapkan menjadi alternatif untuk siswa mendatang.

Perwakilan Biro SD dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Jepang Toru Kubota mengatakan, kendati mendistribusikan alat pendidikan digital, beberapa pemerintah daerah tidak menyetujui aktivasi aplikasi dari Kementerian seperti spreadsheet dan kamera, serta ragu menganjurkan siswa membawa peralatan ke rumah.

“Mereka (siswa) berisiko menonton konten tidak pantas di YouTube atau mencari situs tentang bunuh diri,” kata Toru, dikutip dari The Japan Times (5/4/2021).

Swiss
Dikutip dari laman Federal Office of Public Health (FOPH) Swiss, siswa sekolah hingga mahasiswa perguruan tinggi melakukan belajar tatap muka. Peraturan untuk memakai masker di area publik juga tidak lagi diberlakukan per 26 Juni 2021, seperti dikutip dari laman Business & Hotel Management School.

Dikutip dari Reuters, sejumlah area mengizinkan siswa kelas 5 dan kelas 6 dari sekolah yang sudah melaksanakan tes Covid-19 untuk tidak memakai masker. Sementara itu, guru SMP dan SMA diharuskan tetap mengenakan masker selama belajar tatap muka berlangsung.(dtc/sk)

Editor : Redaksi

Publisher : Alfian (SK)

Bagikan:

Related posts