Kurangi Ketergantungan Tambang, Sektor Jasa Jadi Tumpuan Baru Penyerapan Tenaga Kerja di Kaltim

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Struktur perekonomian di Kalimantan Timur (Kaltim) perlahan mulai menunjukkan arah transformasi yang positif dengan bergesernya tren penyerapan tenaga kerja. Sektor jasa dan pelayanan kini tumbuh menjadi pilar kekuatan baru bagi stabilitas ketenagakerjaan daerah, sekaligus menjadi solusi strategis dalam menyambut masa depan ekonomi non-ekstraktif yang lebih berkelanjutan.

Langkah peralihan ini menjadi momentum penting bagi daerah untuk mulai melepaskan ketergantungan historis terhadap sektor komoditas mentah yang rentan terhadap fluktuasi pasar global. Penguatan pada sektor domestik seperti jasa kemasyarakatan hingga administrasi pemerintahan membuktikan bahwa iklim usaha di Kaltim semakin variatif dan adaptif dalam membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Mas’ud Rifai, menguraikan bahwa berdasarkan himpunan data instansi tersebut, jumlah tenaga kerja di sektor pertambangan dan penggalian mengalami penyusutan signifikan hingga lebih dari 40.356 orang jika dibandingkan dengan kondisi pada periode Februari 2025.

Penurunan daya serap ini dipicu oleh melambatnya aktivitas industri batu bara akibat koreksi kinerja komoditas, baik dari sisi volume produksi maupun angka ekspor ke negara tujuan.

“Dari setiap 100 orang yang masuk dalam angkatan kerja di Kaltim, masih terdapat sekitar lima hingga enam orang yang belum memperoleh pekerjaan,” ungkap Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai.

Di tengah situasi tersebut, kategori aktivitas jasa lainnya justru tampil sebagai penyelamat ekonomi dengan berhasil menampung lebih dari 38.156 orang pekerja baru. Keberhasilan penguatan pasar kerja ini juga didorong oleh sektor administrasi pemerintahan yang berkontribusi menambah penyerapan sekitar 13.067 tenaga kerja di wilayah Kaltim.

Secara makro, grafik Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kaltim per Februari 2026 berada pada angka 5,27 persen, atau berhasil ditekan turun tipis sebesar 0,06 persen poin dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Namun, pemerintah daerah mencatat adanya tantangan domestik di wilayah perkotaan, di mana angka TPT perkotaan justru merangkak naik 0,45 persen poin hingga menyentuh posisi 5,82 persen akibat laju pertumbuhan angkatan kerja yang sangat dinamis.

Melalui potret hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) terbaru, tantangan lain yang dihadapi adalah adanya ketidaksesuaian kualifikasi pendidikan di pasar kerja. Kelompok kelulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mencatat angka pengangguran tertinggi sebesar 8,81 persen, disusul lulusan diploma dan perguruan tinggi sebesar 6,67 persen, serta lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) di angka 6,20 persen.

“Perubahan struktur ekonomi yang sedang berlangsung perlu diiringi dengan peningkatan kualitas ketenagakerjaan agar pergeseran dari sektor tambang menuju sektor jasa tidak hanya menciptakan pekerjaan baru, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan pekerja secara berkelanjutan,” pungkas Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai.(DHV)

www.swarakaltim.com @2024