TANJUNG REDEB, Swarakamltim.com – Ancaman intrusi air laut terhadap sumber air baku di wilayah Gurimbang, Kabupaten Berau, sempat memaksa Perumda Air Minum Batiwakkal melakukan pembatasan produksi. Bahkan di kawasan dekat muara membuat kadar Total Dissolved Solids (TDS) pada sumber air baku melonjak hingga sekitar 1.700 ppm. Direktur Perumda Air Minum Batiwakkal Berau, Saipul Rahman, mengatakan seiring kadar air sudah Kembali normal, maka instalasi bisa Kembali bisa beroperasi sesuai standar.
Saat kadar air mencapai 1.700 ppm beberapa waktu lalu, instalasi hanya dijalankan sekitar 12 jam per hari, untuk menghindari pengolahan air baku yang berada di luar batas aman operasional.
Saipul juga menambahkan, angka TDS 300 ppm sebagai salah satu parameter penting dalam menentukan apakah kondisi air baku memungkinkan untuk mendukung proses produksi. Karena itu, perubahan kualitas air di titik pengambilan tidak bisa diabaikan dan harus diketahui secara berkala.
“Kami tidak bisa hanya melihat kondisi air sekali saja, perubahan kadar TDS harus terus dipantau karena sangat menentukan apakah intake bisa dioperasikan secara optimal atau tidak,” jelas Saipul.
Bertambahnya debit air tawar dari hulu membuat arus sungai menjadi lebih kuat dan membantu menggeser kembali massa air asin menuju kawasan muara. Dengan demikian, penetrasi air laut ke arah titik pengambilan air baku dapat berkurang dan kualitas air perlahan kembali mendukung kegiatan produksi.
Meski operasional telah kembali normal, Perumda belum menganggap persoalan tersebut sepenuhnya selesai. Perubahan kadar garam di wilayah muara sangat bergantung pada kondisi aliran sungai dan tekanan air laut sehingga potensi intrusi masih harus diantisipasi.
“Yang paling penting adalah pengawasan sumber air baku, Kalau kondisinya kembali berubah, kami harus segera mengambil tindakan supaya proses pengolahan tetap terkendali dan pelayanan kepada pelanggan tidak terdampak lebih jauh,” papar Saipul sekaligus mengakhiri. (Nht/Bintang).