Ketika Asap Masuk ke Ruang Kelas

Swarakaltim.com – Pada pertengahan Oktober 2026, ruang-ruang kelas sekolah di Samarinda kembali kosong. Sedikitnya 27 sekolah beralih ke pembelajaran jarak jauh (PJJ), sebagian besar di Kecamatan Palaran dan Sambutan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur pun menerbitkan surat edaran PJJ tahap III bagi SMA, SMK, dan SLB yang berlaku pada 15 sampai dengan 17 Oktober 2026.

Ini bukan kali pertama. Sebulan sebelumnya, pada 17 sampai 19 September, Pemerintah Kota Samarinda juga telah meliburkan tatap muka di seluruh PAUD, TK, SD, dan SMP karena kabut asap. Awal Oktober, sekolah-sekolah di Sambutan dan Palaran kembali diminta belajar dari rumah. Asap datang, pergi, lalu kembali datang lagi.

Samarinda tidak sendirian. Pada pekan yang sama, Balikpapan menerapkan PJJ bagi SD dan SMP, Kutai Timur menghentikan sementara pembelajaran tatap muka, dan sejumlah kecamatan di Kutai Kartanegara, termasuk Tenggarong, melakukan hal serupa. Berau, Mahakam Ulu, Kutai Barat, dan Kecamatan Long Ikis di Paser bahkan sudah lebih dulu memberlakukan belajar dari rumah sejak akhir September.

Sebagian asap tersebut berasal dari kebakaran di sekitar kita, sedangkan sebagian lainnya diduga kiriman dari provinsi tetangga. BPBD Kalimantan Timur mencatat 2.162 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan luas 8.713 hektar sepanjang 2026 hingga 13 Oktober. Di Samarinda sendiri, lahan yang terbakar sudah lebih dari 600 hektar. Kemarau tahun ini juga panjang. Sambutan dan Palaran, dua kecamatan yang paling sering menerapkan PJJ, sempat tidak diguyur hujan selama 62 hari.

Sebagai dosen biologi, saya melihat anak-anak sebagai kelompok yang paling perlu dilindungi. Asap kebakaran membawa partikel halus yang disebut PM2,5. Ukurannya sekitar tiga puluh kali lebih kecil dari diameter sehelai rambut, sehingga partikel ini dapat lolos dari saringan alami di hidung dan tenggorokan, lalu masuk sampai ke kantong udara terdalam di paru. Anak-anak juga bernapas lebih cepat daripada orang dewasa. Artinya, untuk setiap kilogram berat badannya, mereka menghirup udara lebih banyak. Padahal, paru mereka masih terus tumbuh sampai usia remaja. Jika paparan ini terjadi setiap kemarau, bebannya akan terus menumpuk pada organ yang belum selesai berkembang.

Dinas Kesehatan Kalimantan Timur mencatat 322.067 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak Januari hingga pekan ke-40 tahun ini. Sebanyak 65.228 kasus di antaranya berada di Samarinda. Angka ini tentu tidak semuanya disebabkan oleh asap, dan Dinas Kesehatan sendiri menyebut kenaikan yang terkait asap tidak signifikan. Meskipun demikian, angka tersebut menunjukkan bahwa gangguan pernapasan sudah menjadi beban kesehatan yang besar di daerah kita, bahkan sebelum asap ikut menambahnya.

Saya tidak menganggap PJJ sebagai kebijakan yang keliru. Melindungi anak dari asap jelas lebih penting. Namun, saya juga tidak bisa menutup mata bahwa belajar dari rumah ada harganya. Tidak semua keluarga memiliki gawai dan kuota yang cukup, terutama di pinggiran kota dan di kabupaten. Banyak orang tua tetap harus bekerja sehingga tidak bisa mendampingi anaknya belajar. Ketika PJJ datang berulang kali dalam satu semester, ketertinggalan itu lama-lama terasa.

Menurut saya, ada beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan agar sekolah di Kalimantan Timur lebih siap ketika musim asap datang lagi.

Pertama, sekolah bisa menyiapkan satu ruangan sebagai kelas bersih udara. Ruangan itu ditutup rapat dan dipasangi penyaring udara, sehingga siswa yang tetap datang ke sekolah memiliki tempat belajar yang lebih aman. Penyaringnya tidak harus mahal. Di beberapa negara, guru dan siswa merakit sendiri penyaring dari kipas angin dan beberapa lembar filter udara, yang dikenal sebagai kotak Corsi-Rosenthal. Proses merakitnya bahkan bisa dijadikan praktikum IPA.

Kedua, asap perlu dimasukkan ke dalam perencanaan tahun ajaran. Polanya sudah cukup jelas, yaitu asap hampir selalu datang bersama kemarau panjang. Dengan begitu, modul belajar mandiri, termasuk versi cetak untuk siswa yang sulit mengakses internet, dapat disiapkan sebelum asap datang. Jadwal ujian dan kegiatan di luar ruangan juga bisa disusun dengan memperhitungkan musim kemarau.

Ketiga, soal masker. Masker kain dan masker medis biasa tidak cukup untuk menyaring PM2,5. Masker N95 atau KN95 jauh lebih efektif, tetapi harganya belum terjangkau oleh semua keluarga. Di sini sekolah, puskesmas, dan dunia usaha bisa membantu melalui pengadaan bersama.

Terakhir, asap bisa dijadikan bahan belajar. Misalnya, siswa diajak mengecek angka ISPU setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, lalu membahas mengapa lahan mudah terbakar ketika kemarau. Dari situ anak-anak belajar membaca kondisi lingkungannya sendiri, sekaligus belajar mengenali kapan tubuhnya mulai terganggu.

Tentu saja, semua langkah ini tidak akan memadamkan api. Pencegahan karhutla tetap menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan kerja sama banyak pihak. Akan tetapi, selama api belum bisa sepenuhnya dicegah, setidaknya sekolah kita tidak perlu lagi mengosongkan ruang kelas setiap kali kabut asap turun. Kemarau tahun depan hampir pasti datang lagi, dan menurut saya persiapannya sebaiknya dimulai sejak sekarang, bukan ketika asap sudah kembali masuk ke ruang kelas.

Muhammad Fauzi Arif

Dosen Biologi FMIPA Universitas Mulawarman, Samarinda; Mahasiswa Program Doktor Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada

www.swarakaltim.com @2024