
TANJUNG REDEB, Swarakaltim-com – Lemahnya pendidikan agama dan kurangnya pembinaan secara menyeluruh terhadap anak-anak dinilai menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kerentanan generasi muda terhadap perilaku menyimpang. Hal ini mendapat perhatian serius dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Berau.
Pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris Komisi I DPRD Kota Sanggam, Frans Lewi, dalam wawancara yang berlangsung di Kantornya Jl Gatot Subroto, Tanjung Redeb, Selasa (3/2/2026). Ia menegaskan bahwa rendahnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama membuat anak-anak mudah terjerumus, bahkan menjerumuskan orang lain.
“Ketika pendidikan agama kurang, rasa takut kepada Tuhan juga berkurang. Ini yang sering menjadi pintu masuk anak-anak terjerumus ke hal-hal negatif,” ujar Frans Lewi.
Dirinya juga menjelaskan, persoalan tersebut tidak bisa dilepaskan dari keterbatasan peran keluarga. Menurutnya, tidak semua orang tua mampu memberikan pembinaan yang optimal kepada anak-anak, baik karena keterbatasan waktu maupun rendahnya tingkat pendidikan orang tua itu sendiri.
“Orang tua juga tidak sepenuhnya bisa memberikan pembinaan yang baik. Sebagian karena tingkat pendidikan mereka juga terbatas. Ini yang menjadi kekhawatiran kita bersama,” jelas Dewan asal Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) tersebut.
Kondisi ini, lanjut Frans, menuntut adanya peran yang lebih kuat dari lembaga pendidikan formal, khususnya sekolah. Ia menilai sekolah harus menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai-nilai moral dan keagamaan sebagai fondasi pembentukan karakter anak.
Karena itu, Komisi I DPRD Berau mendorong adanya peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan agama di sekolah, termasuk penguatan peran guru-guru agama dalam proses pembinaan peserta didik.
“Harapannya ada peningkatan dari guru-guru agama di sekolah, bukan hanya soal materi pelajaran, tapi juga pembinaan karakter secara menyeluruh,” tegasnya.
Frans Lewi menambahkan, tanpa pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan, anak-anak akan lebih mudah terpengaruh lingkungan negatif, terlebih di tengah arus informasi dan pergaulan yang semakin bebas. Situasi ini, menurutnya, berpotensi memicu berbagai persoalan sosial di masa depan jika tidak segera diantisipasi.
“Kalau pendidikan agama dan pembinaan karakter ini tidak diperkuat, maka kita akan menghadapi masalah sosial yang lebih besar ke depan,” pungkasnya. (Adv/Nht/Bin)