
TANJUNG REDEB, Swarakaltim.com – Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Berau, Sutami, menilai perbandingan sistem parkir di kawasan pasar sanggam adji dilayas (SAD) dengan bandara Kalimarau tidak relevan, karena memiliki karakter aktivitas yang sangat berbeda.
“Oleh sebab itu, kebijakan parkir harus disesuaikan dengan pola mobilitas masyarakat di pasar yang cenderung dinamis. Karakter pasar tidak bisa disamakan dengan bandara karena aktivitas keluar masuknya jauh lebih sering,” jelas Sutami.
Menurutnya, bandara memiliki pola kunjungan yang relatif terbatas, umumnya hanya untuk mengantar atau menjemput penumpang. Sementara di pasar, pengunjung maupun pedagang bisa datang lebih dari satu kali dalam sehari karena kebutuhan transaksi dan logistik barang.
“Di pasar orang bisa bolak-balik beberapa kali, sehingga kalau aturannya disamakan tentu akan menimbulkan persoalan,” kata Wakil Rakyat yang juga merupakan Anggota Komisi 2 lembaga legeslatif Bumi Batiwakkal tersebut.
Tambah Sutami, penerapan sistem parkir terpantau memang memiliki sisi positif dalam hal pengawasan dan transparansi. Namun, ia mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak mengabaikan kondisi riil di lapangan yang berbeda dengan fasilitas transportasi seperti bandara.
“Tujuan penataan parkir itu bagus, tapi implementasinya harus melihat kondisi pasar yang aktivitasnya lebih fleksibel. Kalau seseorang hanya keluar sebentar lalu kembali lagi harus membayar, tentu ini berbeda dengan pola di bandara yang tidak seperti itu,” tegasnya.
Karena itu dirinya juga menyoroti potensi keluhan masyarakat jika setiap aktivitas keluar masuk dikenakan tarif parkir berulang. Kondisi tersebut dinilai dapat membebani pengunjung dan pedagang yang harus kembali ke pasar karena kebutuhan mendesak. Pemerintah daerah harus merumuskan kebijakan parkir khusus yang lebih adaptif terhadap karakter pasar tradisional maupun modern.
“Jadi, pendekatan yang tepat akan menciptakan keseimbangan antara penataan parkir dan kenyamanan masyarakat. Kebijakan parkir harus berbasis pada karakter aktivitas masyarakat di pasar, bukan disamakan dengan bandara yang pola mobilitasnya berbeda,” tandasnya. (Adv/Nht)