Sebut Kasus Baru HIV Didominasi Kelompok Usia Produktif dan LSL, Kadinkes Samarinda Targetkan Skrining Dini Diperkuat

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Dinas Kesehatan Kota Samarinda membeberkan dinamika demografi penderita infeksi HIV berdasarkan hasil pemetaan berkala hingga pertengahan tahun ini. Dari ratusan sampel klinis yang terverifikasi, sebagian besar paparan virus tersebut menyerang kelompok masyarakat yang berada di rentang usia kerja serta dipicu oleh faktor risiko tertentu.

​Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismed Kusasih, mengungkapkan bahwa berdasarkan basis data kumulatif instansinya, mayoritas penderita baru terdeteksi berada di rentang usia 20 hingga 40 tahun. Evaluasi mendalam terhadap riwayat epidemiologi menunjukkan bahwa penularan paling tinggi bersumber dari perilaku hubungan seksual yang menyimpang di lingkungan komunitas tertentu.

​”Berdasarkan data yang ada, kasus baru ini mayoritas ditemukan pada kelompok usia produktif antara 20 hingga 40 tahunan. Jika diurai lebih lanjut mengenai porsi terbesar dari faktor risikonya, kasus HIV tertinggi di Samarinda ini berasal dari perilaku seksual menyimpang, dengan porsi terbesar berasal dari kelompok Lelaki Suka Lelaki atau LSL. Pola sebaran ini sebenarnya cenderung sama dengan fenomena yang terjadi di seluruh Indonesia,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismed Kusasih, Kamis (25/6/2026).

​Hingga bulan Juni ini, otoritas kesehatan kota mencatat ada sekitar 180 temuan kasus baru HIV di Samarinda, dengan sekitar 140 penderita diantaranya sudah masuk dalam tahapan pemantauan obat intensif. Penanganan khusus terus diberikan guna menekan tingkat fatalitas dan mencegah potensi penularan baru ke masyarakat sehat.

​”Sampai bulan Juni ini, penemuan kasus baru HIV di Samarinda berada di angka 180-an kasus, dan sekitar 140 penderita diantaranya sudah aktif menjalani pengobatan. Karena penularan virus ini berkaitan erat dengan pola perilaku, maka bagi masyarakat yang sehat benteng utamanya adalah pemahaman edukasi yang benar untuk menghindari faktor risiko tersebut,” pungkas Ismed Kusasih.

​Pemerintah kota memastikan jaminan kerahasiaan identitas dan akses pengobatan gratis akan terus diberikan di seluruh puskesmas rujukan. Langkah skrining dan edukasi preventif ke tempat-tempat yang dinilai rentan akan semakin diperketat guna memutus mata rantai penularan di lingkungan perkotaan.(DHV)

www.swarakaltim.com @2024