MEDAN, Swarakaltim.com – Kiprah Dekranasda Kota Samarinda dalam melestarikan budaya sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif mendapat perhatian di tingkat nasional.
Ketua TP PKK Kota Samarinda yang juga Ketua Dekranasda Kota Samarinda, Hj Rinda Wahyuni Andi Harun, dipercaya menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Ladies Program yang merupakan rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 di Gedung Warenhuis, Kota Medan, Rabu (1/7/2026).
Mengusung tema “Perempuan Tangguh Penuh Percaya Diri”, kegiatan tersebut menghadirkan sesi sharing knowledge yang mempertemukan para Ketua TP PKK dari berbagai kota di Indonesia untuk berbagi pengalaman dan praktik baik dalam mendukung pembangunan daerah.
Dalam kesempatan itu, Rinda memaparkan berbagai program dan inovasi yang dijalankan Dekranasda Kota Samarinda dalam membina pelaku industri kreatif, melestarikan budaya lokal, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui sektor ekonomi kreatif.
Mengawali paparannya, Rinda mengajak para peserta mengenal lebih dekat potensi budaya Samarinda yang tumbuh dan berkembang di tepian Sungai Mahakam. Menurutnya, kekayaan budaya daerah tidak hanya harus dijaga dan dilestarikan, tetapi juga diberdayakan menjadi kekuatan ekonomi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Di bawah kepemimpinannya selama dua periode sejak 2021 hingga saat ini, Dekranasda Kota Samarinda terus menghadirkan berbagai program pembinaan dan pengembangan industri kreatif secara berkelanjutan. Salah satunya melalui penyelenggaraan berbagai pagelaran fashion yang melibatkan desainer dan pengrajin lokal sebagai ruang promosi produk kreatif daerah.
Selain itu, Dekranasda juga aktif menggelar lomba dan pelatihan batik guna mendorong generasi muda mengenal, mencintai, sekaligus mengembangkan warisan budaya yang menjadi identitas daerah.
Berbagai upaya tersebut membuahkan hasil. Karya-karya terbaik Kota Samarinda tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga berhasil menembus panggung internasional melalui ajang fashion bertema The Allure of Wastra Indonesia di Los Angeles, Amerika Serikat, dan Milan, Italia.
Keikutsertaan tersebut menjadi bukti bahwa produk kriya dan fashion asal Samarinda mampu bersaing serta memperoleh apresiasi di tingkat dunia.

Dalam forum itu, Rinda juga menyoroti pengembangan Sarung Samarinda sebagai salah satu wastra unggulan sekaligus identitas budaya Kota Tepian yang terus dilestarikan dan dikembangkan melalui berbagai inovasi.
Menurutnya, Sarung Samarinda merupakan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun serta memiliki nilai historis dan filosofis yang kuat bagi masyarakat Samarinda. Seiring perkembangan zaman, berbagai motif baru terus dikembangkan dengan inspirasi dari kekayaan alam, sejarah, dan budaya Kalimantan Timur.
Beberapa motif yang kini berkembang antara lain motif Pakis yang melambangkan pertumbuhan, kehidupan, dan ketangguhan, serta motif Mahakarya Tetua yang menggambarkan penghormatan terhadap nilai-nilai kearifan lokal dan warisan leluhur.
Inovasi juga dilakukan melalui pemanfaatan pewarna alam yang ramah lingkungan. Berbagai bahan alami digunakan untuk menghasilkan warna-warna khas yang tidak hanya indah, tetapi juga mencerminkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan keberlanjutan industri tenun daerah.
Kini Sarung Samarinda tidak lagi hanya digunakan sebagai busana tradisional maupun sarung dalam fungsi konvensionalnya. Beragam kreasi telah lahir, mulai dari busana formal, outer, tas, hingga berbagai aksesori modern yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Untuk memperkuat penggunaan produk lokal, Dekranasda Kota Samarinda juga menginisiasi berbagai kegiatan kreatif, di antaranya lomba fashion batik yang melibatkan ASN dan kelurahan, serta lomba fashion Sarung Samarinda yang digelar di Bigmall Samarinda sebagai wadah memperkenalkan tenun khas daerah kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.

Rinda menegaskan bahwa berbagai program yang dijalankan Dekranasda tidak semata-mata bertujuan melestarikan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para pengrajin, pelaku UMKM, dan industri kreatif lokal.
“Budaya adalah kekuatan dan kreativitas adalah jalan menuju kesejahteraan. Karena itu kami terus mendorong kolaborasi, inovasi, dan pemberdayaan agar warisan budaya yang dimiliki Samarinda tetap lestari sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui forum Rakernas APEKSI 2026 tersebut, Rinda berharap pengalaman Kota Samarinda dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus menggali potensi lokal sebagai bagian dari strategi pembangunan.(dho)