SANGATTA, Swarakaltim.com – Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan sekadar kewajiban akademik untuk memenuhi satuan kredit semester (SKS), tetapi menjadi momentum bagi mahasiswa mengaplikasikan ilmu sekaligus berkontribusi dalam pembangunan desa. Pesan tersebut disampaikan Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman saat melepas 53 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Sangatta yang akan melaksanakan KKN selama 45 hari, Senin (27/7).
Pelepasan peserta KKN berlangsung di Kantor Bupati Kutim. Selama masa pengabdian, para mahasiswa akan ditempatkan di enam desa, yakni Bukit Permata, Bumi Rapak, Cipta Graha, Kadungan Jaya, Mata Air, dan Pengadan Baru.
Ardiansyah menegaskan, mahasiswa STIPER memiliki tanggung jawab besar karena perguruan tinggi tersebut didirikan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur untuk mencetak sumber daya manusia yang mampu memperkuat sektor pertanian daerah.
“Jangan jadikan KKN hanya sebagai formalitas untuk memenuhi SKS. Inilah saatnya membuktikan ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pesannya.
Bupati yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap sektor pertanian dan peternakan itu berharap mahasiswa mampu menjadi katalisator pembangunan desa. Selain mengidentifikasi berbagai potensi yang dimiliki desa, mahasiswa juga diharapkan dapat membantu mencari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya di sektor agraria dan pemberdayaan ekonomi.
“Mahasiswa STIPER harus mampu menjadi katalis dalam mengidentifikasi potensi sekaligus memecahkan persoalan desa, terutama pada sektor agraria dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua STIPER Sangatta, Dr. Ismail Fahmy Almadi, mengatakan seluruh peserta telah dibekali berbagai materi sebelum diterjunkan ke lokasi KKN. Pembekalan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk beradaptasi dengan lingkungan desa sekaligus mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.
“Kami berharap seluruh peserta mampu beradaptasi dengan cepat di lokasi KKN dan menghadirkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui pelaksanaan KKN selama 45 hari tersebut, mahasiswa STIPER diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di lapangan, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi dan solusi yang mendukung pembangunan pertanian serta pemberdayaan masyarakat desa di Kutai Timur. (fan)