SAMARINDA, Swarakaltim.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda resmi menghadirkan fasilitas Cold Storage (ruang pendingin) berkapasitas 120 ton di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Harapan Baru. Langkah strategis yang diinisiasi Dinas Perikanan Kota Samarinda ini ditujukan untuk memutus rantai permainan harga oleh oknum mafia pedagang sekaligus menjaga stabilitas inflasi sektor pangan.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, membeberkan bahwa selama ini TPI kerap menjadi lokasi “pembantaian harga” yang merugikan para nelayan. Nelayan dari luar daerah seperti Mamuju, Banjarmasin, Balikpapan, hingga Bontang kerap terpaksa menjual hasil tangkapannya dengan harga sangat murah akibat tidak adanya fasilitas penyimpanan yang memadai saat pasokan membludak.
“Selama ini TPI itu sering kali bukan jadi tempat pelelangan, tapi tempat pembantaian harga ikan. Nelayan jauh-jauh dari Mamuju atau Banjarmasin datang karena dengar harga ikan di Samarinda naik. Begitu semua kapal masuk, harga langsung dijatuhkan. Nelayan terpaksa bongkar muatan dengan harga murah karena tidak bisa balik lagi. Nah, dengan adanya cold storage 120 ton ini, mafia ikan dipastikan KO,” tegas Andi Harun, Rabu (5/8/2026).
Kehadiran cold storage tidak hanya melindungi pendapatan nelayan, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen pembanding pasar saat terjadi lonjakan permintaan (demand) pasokan ikan di masyarakat.
Andi Harun menjelaskan, Pemkot Samarinda kini memiliki kemampuan untuk menyimpan komoditas ikan tertentu saat pasokan melimpah dan mengeluarkannya kembali ke pasar ketika terjadi kelangkaan.
“Ini menjadi instrumen penting pengendali inflasi daerah. Kalau ada jenis ikan yang tingkat permintaannya sangat tinggi dan mulai hilang di pasaran, kita bisa keluarkan cadangan dari tempat pendingin kita untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen,” jelasnya.
Selain penyediaan pendingin skala besar, Pemkot Samarinda tengah menyiapkan pembenahan tata kelola dan digitalisasi transaksi di TPI Harapan Baru. Konsep TPI modern akan diterapkan tanpa menghilangkan kearifan transaksi tradisional.
“Kita ingin ubah wajah TPI. Penjualnya nanti rapi, tidak ada lagi air menggenang, tidak bau, tapi budaya transaksi tradisional dan silaturahminya tetap terjaga. Saya minta tata kelola dan digitalisasinya terus diperbaiki sebelum diresmikan secara penuh,” pungkas Wali Kota.(DHV)