Disbun Kaltim Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla Demi Amankan Produksi Perkebunan

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memperketat langkah penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di kawasan perkebunan. Upaya ini dilakukan untuk meminimalisasi gangguan produksi komoditas yang berpotensi memicu kerugian ekonomi bagi masyarakat maupun pelaku usaha.

Plt. Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Arief Murdiyatno, menjelaskan bahwa tantangan di sektor budidaya perkebunan sangat beragam, mulai dari serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) hingga ancaman bencana kebakaran lahan.

“Sebenarnya bukan hanya kebakaran lahan, kita juga ada gangguan lain seperti hama atau organisme pengganggu tanaman. Harapan kita sebagai dinas teknis yang mengampu perkebunan ini, kebun-kebun kita tidak terganggu oleh bencana maupun penyakit tanaman agar bisa berproduksi optimal,” ujar Arief, Kamis (27/8/2026).

Arief menekankan, penanganan Karhutla di sektor perkebunan memerlukan perhatian khusus karena dampaknya yang langsung bersinggungan dengan nilai ekonomi. Untuk itu, Disbun Kaltim mengedepankan pola kerja sama kolaboratif bersama BPBD Kaltim selaku leading sector, TNI-Polri, tim satgas, hingga Kelompok Tani Peduli Api (KTPA).

“Khusus untuk penanganan Karhutla ini memang sangat kita tekankan sekali, karena ketika merembet ke kebun, ini akan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup lumayan. Segala macam upaya dan kolaborasi kita lakukan dengan tujuan menyelamatkan usaha budidaya kita,” tegasnya.

Ia menambahkan, kesiapsiagaan di lapangan didasarkan pada sistem pemantauan titik panas (hotspot) satelit. Setiap hotspot yang terdeteksi langsung diverifikasi oleh tim terdekat untuk tindakan pemadaman dini.

“Kalau perusahaan sebenarnya sudah kita anggap mandiri secara sarana dan fiskal. Mereka punya SOP dan kedisiplinan yang sangat ketat untuk menjaga lahannya. Sementara untuk masyarakat, tetap kita lakukan pembinaan, pendampingan, dan sosialisasi. Sayang kalau sudah budidaya sekian lama, lalu produksinya turun karena Karhutla. Padahal perkebunan ini kita dorong menjadi penyumbang PDRB Kaltim di masa transisi dari sektor ekstraktif,” pungkas Arief.(DHV)

www.swarakaltim.com @2024