Anggota DPRD Kukar Keluhkan Jembatan Sambera dan Jalan Tanah Datar yang Tak Kunjung Diperbaiki

Suyono, Aggota DPRD Kukar

KUKAR, Swarakaltim.com – Anggota DPRD Kukar Suyono menyayangkan kelambanan pemerintah memperbaiki dua akses jalan utama di kawasan Kutai Kartanegara. Yakni jalan poros Tanah Datar dan akses Muara Badak ke Marangkayu. Padahal tidak sekali dua kali masyarakat melayangkan keluhan.

Tak bisa dipungkiri, bahwa ketersediaan akses jalan yang mulus akan turut meningkatkan perekonomian. Sayangnya, masih cukup banyak akses jalan di Kaltim yang dalam kondisi rusak. Salah satu yang paling mencolok misalnya, jalan poros Samarinda-Bontang di Desa Tanah Datar, Kukar.

Sudah beberapa bulan terakhir, jalan yang berdekatan dengan Bandara APT Pranoto tersebut rusak parah. Terkhusus saat hujan turun, kondisi jalan langsung licak akibat air dan lumpur yang melimpah ke badan jalan. Kalau sudah begitu, kemacetan panjang akan terjadi. Tak jarang pelintas jalan harus menghabiskan 1-2 jam hanya untuk melewati jalan tersebut.

Anggota DPRD Kukar dari Dapil 3 (Anggana, Muara Badak, dan Marangkayu) Suyono, tak hanya sering mendapat laporan dari warga di daerah tersebut. Namun juga merasakan langsung sulitnya mengakses jalan nasional tersebut. Bahkan pernah suatu kali, ketika ia mengejar waktu untuk rapat. Mobilnya oleng dan hampir terjerungkup ke parit di kawasan Tanah Datar itu.

Waktu itu saya mau rapat di kantor. Tapi saat di Tanah Datar kondisi macet dan banyak truk yang antre. Akhirnya saya pun berusaha menerobos lewat pinggir jalan dan mobil yang saya gunakan mau terbalik hingga masuk ke dalam parit,” ucap Suyono pada Wartawan Selasa (10/8/2021) malam.

Suyono paham bahwa status jalan nasional membuat ruas itu tak bisa dikelola Pemkab Kukar atau pun Pemprov Kaltim secara leluasa. Karena menjadi kewenangan presiden melalui kementerian terkait. Hanya saja, pemerintah daerah mestinya bisa membangun komunikasi yang lebih intensif ke pusat.

Kondisi teranyar ruas tersebut memang saat ini badan jalan sudah dilapisi dengan kerikil dan tanah. Sehingga cenderung keras, dan bisa mengurai kemacetan panjang yang biasa terjadi. Namun Suyono berharap betul agar secepatnya dilakukan pengecoran atau pun pengaspalan.

“Keras sih keras, tapi masih tanah. Kalau hujan tetap saja berlumpur. Sama kasian warga yang usaha di pinggiran jalan itu. Jualannya berdebu. Kalau di aspal atau di cor kan lebih bagus. Apalagi jalan itu akses satu-satunya ke bandara. Jangan sampai warga dari Sangatta, Bontang, Marangkayu, dan Muara Badak selalu gagal berangkat naik pesawat karena terkena macet,” cetus Suyono.

Beralih ke beberapa kilometer dari Tanah Datar, menurut Suyono, akses alternatif menuju Bontang melalui jalur pesisir perlu diperhatikan juga. Akses yang melintasi kawasan pinggir laut Muara Badak dan Marangkayu itu tak sebagus yang dibayangkan. Masih banyak jalan berlubang dan ada pula jembatan ‘Uji Nyali’, yakni Jembatan Sambera Muara Badak.

“Jembatan Sambera itu satu-satunya penyambung jalan dari Muara Badak ke Marangkayu untuk menuju Kota Bontang. Tapi sampai saat ini kondisinya memprihatinkan,” singgungnya.

Sebagai wakil rakyat, ia sangat berharap pemerintah lebih peduli akan keluhan ini. Apalagi, jalan dan jembatan merupakan penyambung ekonomi masyarakat.

“Kalau jalan rusak dan jembatan rusak. Maka itu akan menghambat perekonomian masyarakat. Tapi kalau sudah diperbaiki, tentu akan sebaliknya. Masyarakat tidak akan kehabisan waktu di jalan,” ungkap politisi dari Partai PKB Kukar ini.

Jembatan Sambera yang merupakan bantuan dari Pertamina ini, sudah sering kali ia minta untuk segera diperbaiki oleh pemerintah. Karena saat ini kondisinya sangat parah. Banyak kayu dan besinya yang patah dan berlubang. Tentunya itu sangat membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara roda dua.

“Itu kan pondasi besinya sudah ada. Sudah dibuatkan oleh Pertamina. Nah saya berharap pemerintah segera mengecor bagian atasnya. Jangan lah kayu ulin begini. Sangat bahaya. Banyak sudah yang jatuh karena terkena lubang atau patahan kayunya. Dan selama ini, perbaikan jembatan kalau ada yang berlubang, masyarakat sendiri yang memperbaiki,” tegas Suyono.

Ia pun sempat mempertanyakan ke pemerintah setempat. Mengapa Jembatan Sambera tidak diperbaiki. Dan jawabannya pun selalu sama.

“Mereka (pemerintah) selalu bilang tidak ada anggaran. Selalu dan selalu begitu. Tapi kalau sudah tidak bisa dilalui sama sekali, baru pusing. Karena itu satu-satunya akses antara Muara Badak ke Marangkayu dan sebaliknya,” keluh Suyono. (Bio)

Bagikan:

Related posts