SAMARINDA, Swarakaltim.com – Persiapan penilaian internasional dari UNESCO untuk kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat terus dikebut oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dengan fokus pada aspek konservasi dan ekowisata.
Langkah strategis yang saat ini tengah berjalan mencakup penguatan branding di titik-titik pintu masuk kawasan serta pelatihan intensif bagi personel di lapangan guna menghadapi tim verifikasi internasional.
Kawasan yang memiliki luas mencapai 1,8 juta hektare ini direncanakan menjadi geopark terbesar di Indonesia dengan melibatkan sinkronisasi data lintas sektor. Melalui persiapan yang matang, pemerintah berharap keunikan bentang alam karst tersebut dapat dipresentasikan secara utuh sebagai potensi luar biasa yang dimiliki Kalimantan Timur kepada dunia.
”Kami terus memperkuat branding geopark di titik-titik strategis seperti bandara dan gerbang masuk kawasan. Selain itu, para aktor di lapangan juga sedang dilatih secara intensif agar siap memberikan penjelasan mendalam kepada tim verifikasi UNESCO mengenai potensi luar biasa yang kita miliki,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur, Ririn Sari Dewi, Rabu (6/5/2026).
Secara administratif, usulan ini didukung oleh rencana induk yang telah melalui tinjauan nasional serta mencakup puluhan titik geosite, situs keanekaragaman hayati, hingga situs budaya. Penguatan nilai universal pada lokasi ikonik seperti Labuan Cermin dan Menara Kars Tondoyan menjadi prioritas riset yang melibatkan berbagai ahli geologi serta lembaga internasional.
”Ini adalah kerja kolektif yang melibatkan banyak pihak, mulai dari akademisi, instansi pelestarian budaya, hingga sektor swasta. Seluruh perangkat daerah terlibat aktif sesuai bidangnya, baik dalam urusan riset, mitigasi bencana di kawasan karst, hingga pengembangan ekonomi kreatif bagi masyarakat lokal,” tambah Ririn Sari Dewi mengenai kolaborasi lintas instansi tersebut.
Jika meraih pengakuan UNESCO, status internasional tersebut akan menjadi instrumen untuk memperketat pengamanan kawasan agar ekosistem karst tetap terjaga dari aktivitas yang tidak terkontrol. Ririn menekankan bahwa fokus utama ke depan adalah pengelolaan yang lebih tertata demi keseimbangan antara wisata dan perlindungan lingkungan.
“Status dari UNESCO akan menjadi kebanggaan sekaligus instrumen penguatan kawasan konservasi kita. Fokus utamanya adalah pengelolaan yang lebih tertata sehingga ekowisata berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan yang ketat,” pungkasnya.(DHV)