TANJUNG REDEB, Swarakaltim.com – Kebocoran jaringan pipa distribusi masih menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi Perumda Air Minum Batiwakkal dalam menjaga kualitas dan kontinuitas layanan air bersih kepada masyarakat. Selain menyebabkan hilangnya volume air produksi, kerusakan pada jaringan juga berdampak langsung terhadap tekanan distribusi yang diterima pelanggan.
Persoalan tersebut diungkapkan Direktur Perumda Air Minum Batiwakkal, Saipul Rahman, melalui Manajer Hubungan Pelanggan Rudy Hartono via seluler baru baru ini. “Luasnya jaringan perpipaan yang tersebar di berbagai wilayah membuat pengawasan tidak dapat dilakukan sepenuhnya oleh petugas perusahaan. Akibatnya, sejumlah kebocoran baru diketahui setelah menimbulkan gangguan terhadap pelayanan masyarakat,” jelasnya.
Akibat hal itu lanjutnya, kebocoran pipa tidak hanya menyebabkan pemborosan air yang telah diproduksi, tetapi juga memicu penurunan tekanan distribusi pada kawasan sekitar. Kondisi tersebut kerap menjadi penyebab aliran air ke rumah pelanggan menjadi lemah bahkan terganggu pada jam-jam tertentu.
“Jadi, semakin lama kebocoran tidak terdeteksi, semakin besar pula dampaknya terhadap pelayanan. Karena itu kecepatan menemukan titik kerusakan menjadi hal yang sangat penting,” ujarnya.
Untuk meminimalkan persoalan tersebut, PDAM terus memperkuat sistem pemantauan jaringan sekaligus melibatkan masyarakat dalam pengawasan di lapangan. Peran warga dinilai sangat membantu karena sering kali menjadi pihak pertama yang menemukan indikasi kebocoran sebelum petugas tiba di lokasi.
“Laporan masyarakat selama ini berkontribusi besar dalam mempercepat penanganan gangguan. Informasi yang disampaikan warga memungkinkan tim teknis segera melakukan pengecekan dan perbaikan sehingga dampak terhadap pelanggan dapat ditekan,” imbuh Rudy.
Karena itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk segera melapor apabila menemukan tanda-tanda kebocoran, seperti munculnya genangan air di badan jalan, rembesan di sekitar jalur pipa, atau kondisi lain yang berpotensi mengganggu distribusi air bersih.
“Pelayanan yang optimal tidak hanya bergantung pada petugas, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat. Semakin cepat laporan diterima, semakin cepat pula perbaikan bisa dilakukan,” tegasnya.
Melalui kolaborasi antara Perumda Batiwakkal dan masyarakat, diharapkan tingkat kehilangan air akibat kebocoran dapat ditekan sehingga kualitas dan kontinuitas pelayanan air bersih bagi pelanggan di Kabupaten Berau dapat terus terjaga. (Nht/Bin)