Tanjung Redeb, Swarakaltim.com — Tren kunjungan wisatawan mancanegara ke Kabupaten Berau mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya wisatawan asal Eropa menjadi salah satu pasar utama yang mendominasi kunjungan ke destinasi unggulan seperti Derawan, Maratua, dan Kakaban, kini pasar wisata dari kawasan Asia justru menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat.
Perubahan pola kunjungan ini menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Berau, terutama dalam menyusun strategi promosi pariwisata ke depan. Pergeseran pasar tersebut dinilai sebagai dinamika yang harus disikapi secara adaptif agar sektor pariwisata Bumi Batiwakkal tetap tumbuh dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengungkapkan bahwa jumlah wisatawan asal Eropa memang masih ada, namun persentasenya mengalami penurunan dibandingkan beberapa tahun lalu. Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, terutama situasi global yang berdampak terhadap mobilitas perjalanan internasional.
“Kalau dulu wisatawan kita lebih banyak dari Eropa Barat seperti Belanda, Italia, dan Prancis. Sekarang mereka masih datang, tetapi memang persentasenya sedikit berkurang dibanding sebelumnya,” ujar Gamalis.
Ia menjelaskan, wisatawan dari Eropa umumnya merencanakan perjalanan jauh-jauh hari, bahkan beberapa bulan sebelum keberangkatan. Namun, perubahan situasi global yang terjadi dalam waktu singkat sering kali berdampak langsung terhadap rencana perjalanan mereka.
Menurut Gamalis, salah satu faktor yang cukup memengaruhi adalah terganggunya jalur penerbangan internasional yang biasa digunakan wisatawan menuju Indonesia. Sebagian besar wisatawan Eropa diketahui transit melalui sejumlah negara di kawasan Timur Tengah sebelum melanjutkan perjalanan ke Indonesia.
“Banyak wisatawan dari Eropa biasanya transit di beberapa negara sebelum ke Indonesia. Ketika ada gangguan akibat situasi global, tentu itu berdampak langsung terhadap perjalanan mereka,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut menyebabkan sebagian wisatawan menunda bahkan membatalkan kunjungan ke Indonesia, termasuk ke Kabupaten Berau. Hal ini kemudian berdampak pada persentase kunjungan wisatawan dari pasar Eropa.
Meski demikian, sektor pariwisata Berau tetap menunjukkan geliat positif melalui peningkatan kunjungan wisatawan dari kawasan Asia. Negara-negara seperti China, Korea Selatan, Jepang, hingga Malaysia kini menjadi pasar yang terus berkembang dan memberi kontribusi besar terhadap sektor pariwisata daerah.
“Sekarang yang datang lebih banyak dari Asia, seperti China, Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia. Wisatawan Asia ini cukup mendominasi kunjungan dalam beberapa waktu terakhir,” katanya.
Gamalis menilai perubahan ini harus dibaca sebagai peluang baru bagi pengembangan pariwisata daerah. Menurutnya, strategi promosi wisata Berau ke depan harus lebih fleksibel dan mampu menyesuaikan dengan karakter pasar yang berkembang.
a menegaskan bahwa promosi pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan pasar tradisional yang selama ini sudah terbentuk. Pemerintah daerah juga perlu membuka peluang lebih luas untuk menjangkau pasar baru yang memiliki potensi besar.
“Kita harus adaptif. Pariwisata tidak bisa berjalan dengan pola lama terus-menerus. Harus ada penyesuaian strategi agar promosi kita tepat sasaran,” tegasnya.
Selain memperluas promosi, Gamalis juga menekankan pentingnya menjaga kualitas destinasi wisata yang ada. Menurutnya, daya tarik utama Berau tetap terletak pada kekayaan alam, keindahan bahari, dan pengalaman wisata yang berbeda dari daerah lain.
Ia optimistis, selama kualitas destinasi tetap terjaga dan promosi dilakukan secara tepat, Kabupaten Berau akan tetap menjadi salah satu tujuan wisata unggulan, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga daya tarik wisata Berau. Kalau kualitas destinasi kita terjaga, saya yakin wisatawan akan terus datang,” tandasnya. (Nht/Azs).