TANJUNG REDEB, Swarakaltim.com – Upaya Pemerintah Kabupaten Berau menekan angka pengangguran tidak berhenti pada pelaksanaan Job Fair semata. Pemerintah kini fokus pada penguatan kualitas sumber daya manusia melalui optimalisasi Balai Latihan Kerja (BLK). BLK tersebut dapat menjadi lokasi pelaksanaan berbagai pelatihan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Program tersebut merupakan bagian dari dukungan Kementerian Ketenagakerjaan bagi tiga provinsi, yakni Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan. Dalam skema tersebut disiapkan kuota pelatihan bagi sekitar 4.800 peserta. Pemerintah Kabupaten Berau berupaya memperoleh porsi yang besar agar semakin banyak masyarakat lokal dapat mengikuti pelatihan tanpa harus bergantung pada pembiayaan daerah.
Hal itu disampaikan Wakil Bupati Berau, Gamalis, usai menghadiri pembukaan Berau Job Fair 2026 di Ballroom SM Tower Hotel and Convention Berau, Rabu (29/7/2026). Menurutnya, persoalan ketenagakerjaan di Berau tidak cukup diselesaikan dengan mempertemukan pencari kerja dan perusahaan, tetapi juga harus dibarengi peningkatan keterampilan masyarakat agar mampu bersaing di pasar kerja maupun menciptakan usaha secara mandiri.
Ia menjelaskan, Job Fair merupakan salah satu langkah jangka pendek untuk membuka akses masyarakat terhadap peluang kerja yang tersedia, namun, tantangan sesungguhnya terletak pada masih banyaknya pencari kerja yang belum memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industry. Oleh karena itu, keberadaan BLK dipandang sebagai instrumen penting dalam membangun tenaga kerja yang lebih siap memasuki dunia kerja.
“Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Kami ingin masyarakat Berau memperoleh akses pelatihan sebanyak mungkin melalui dukungan pemerintah pusat sehingga peningkatan kompetensi tidak hanya bergantung pada kemampuan APBD,” ujarnya.
Jenis pelatihan yang dirancang juga disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha sekaligus perkembangan sektor ekonomi kreatif. Selain keterampilan teknis seperti pengelasan, peserta nantinya akan dibekali kemampuan di bidang tata boga, barista, tata rias, barbershop, hingga berbagai layanan kecantikan yang memiliki prospek usaha cukup besar. Menurut Gamalis, orientasi pelatihan tidak lagi hanya diarahkan agar peserta menjadi karyawan perusahaan, tetapi juga mendorong lahirnya wirausaha baru yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat lainnya.
“Harapannya setelah mengikuti pelatihan, mereka tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan membuka usaha sendiri sehingga bisa menciptakan peluang kerja baru,” pungkasnya. (Nht/Bin)