Bukan Sekadar Membaca, Balikpapan Ubah Perpustakaan Jadi Ruang Tumbuh Anak

BALIKPAPAN,Swarakaltim.com.                                 Di tengah derasnya arus teknologi digital, Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan memilih tidak melawan perubahan zaman dengan sekadar mengajak anak membaca buku. Sebaliknya, pemerintah memperluas cara anak berinteraksi dengan literasi melalui perpustakaan, sekolah, keluarga hingga ruang publik.

Strategi tersebut dilakukan untuk membangun kebiasaan literasi sejak usia dini, sekaligus memastikan aktivitas membaca tetap relevan bagi generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Balikpapan Neny Dwi Winahyu mengatakan,  penguatan literasi anak menjadi salah satu fokus pemerintah daerah. Program yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada ketersediaan buku, tetapi juga bagaimana anak merasa nyaman dan terbiasa berada di lingkungan literasi.

“Program kami saat ini memang difokuskan kepada anak. Sesuai kewenangan pemerintah daerah, sasaran literasi mencakup satuan pendidikan, masyarakat, dan keluarga,” ujarnya, Senin (10/8/2026).

Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui program Alibaba (Anak Literasi Kebanggaan Balikpapan). Program tersebut dirancang untuk mengenalkan aktivitas literasi kepada anak dengan pendekatan yang menyenangkan.

Perpustakaan juga tidak lagi diposisikan hanya sebagai tempat meminjam dan membaca buku. Layanan wisata edukasi dibuka setiap hari untuk memberikan pengalaman langsung kepada anak dalam mengenal perpustakaan sebagai ruang belajar sekaligus tempat berekreasi yang edukatif.

Ruang baca khusus anak dimanfaatkan oleh peserta didik PAUD, TK hingga SD. Sementara pelajar SMP mendapat jadwal kunjungan khusus setiap Jumat.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk membentuk kebiasaan. Anak diharapkan tidak hanya datang ke perpustakaan karena tugas sekolah, tetapi mulai menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari keseharian.

Akses literasi pun diperluas keluar dari gedung perpustakaan. Pemkot Balikpapan menghadirkan Pojok Baca Digital di sejumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH), sehingga masyarakat dapat memperoleh akses terhadap bahan bacaan digital ketika berada di ruang publik.

“Kami ingin layanan literasi semakin dekat dengan masyarakat. Karena itu, selain di perpustakaan, akses membaca juga kami hadirkan di ruang-ruang publik melalui Pojok Baca Digital,” kata Neny.

Perluasan akses tersebut berjalan beriringan dengan capaian pembangunan literasi masyarakat. Berdasarkan pengukuran Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) oleh Perpustakaan Nasional, Balikpapan mencatat nilai 80 pada 2025.

Indikator tersebut mencakup sejumlah aspek pembangunan literasi, mulai dari ketersediaan layanan perpustakaan, akses terhadap bahan bacaan hingga pemanfaatan fasilitas literasi oleh masyarakat.

“Alhamdulillah, nilai IPLM Balikpapan tahun 2025 mencapai 80. Capaian ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan memperluas jangkauan program literasi,” ujar Neny.

Ke depan, Pemkot Balikpapan akan memperkuat kolaborasi dengan sekolah, keluarga dan komunitas literasi. Langkah tersebut dinilai penting agar budaya membaca tidak berhenti di ruang kelas maupun perpustakaan, tetapi tumbuh di lingkungan keluarga dan ruang publik.

Untuk memperluas akses sekaligus mengubah pengalaman anak terhadap literasi, Balikpapan menargetkan budaya membaca menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar kemampuan memahami bacaan, tetapi menjadi bekal anak untuk menyaring informasi dan menghadapi tantangan di tengah derasnya arus digital.(Adv Diskominfo Balikpapan)

www.swarakaltim.com @2024