Tanjung Redeb, Swarakaltim.com – Lintasan penjelajahan alam (hiking) di kawasan Bukit Ruaban, Kampung Tubaan, terpaksa ditutup sementara akibat kepungan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kendati demikian, perlindungan terhadap ekosistem pedalaman tersebut terus diperketat, mengingat kawasan hutan tersebut menyimpan kekayaan flora langka sekaligus sumber air murni alami yang menjadi penopang hidup warga.
Ancaman terhadap kelestarian Hutan Tubaan sejatinya tidak hanya bersumber dari bencana asap musiman, melainkan juga bayang-bayang perluasan kawasan industri pertambangan.
Menurut Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau, Samsiah, menghadapi potensi gundulnya lahan akibat aktivitas ekstraktif, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat mengambil langkah proaktif dengan mengevakuasi berbagai spesies anggrek liar dari zona rawan sebelum pembukaan lahan dilakukan.
“Jadi, spesies anggrek liar terancam tersebut dihimpun di rumah penangkaran (greenhouse) untuk nantinya dikembalikan ke habitat aslinya melalui paket wisata edukasi,” katanya.
Keutuhan vegetasi Hutan Ruaban tambahnya, merupakan benteng utama yang menjaga keberadaan mata air karst melimpah di kaki bukit. Sumber air alami berstruktur nano dengan tingkat keasaman (pH) mencapai 9 tersebut mengalir jernih dan dapat langsung dikonsumsi warga tanpa harus melalui proses sterilisasi rumit.
“Kualitas air alkali yang sangat tinggi ini muncul secara alami karena perpaduan struktur batuan karst dan rimbunnya tutupan hutan. Walau debitnya sempat mengencang dan sedikit menurun saat musim kering ini, pasokan airnya masih sanggup memenuhi kebutuhan harian beberapa pemukiman, bahkan dijual hingga ke wilayah Kecamatan Talisayan melalui tata kelola BUMK,” terang Samsiah.
Mengenai dorongan pengembangan komersialisasi industri air kemasan dari sumber tersebut, Samsiah memperjelas batasan ranah kerja pemerintah daerah. Menurutnya, tata kelola lini bisnis dan legalitas usaha BUMK berada di bawah wewenang Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK).
“Pihak kami hanya berfokus penuh pada pembinaan Pokdarwis dalam mempertahankan fungsi resapan air melalui pendekatan ekowisata. Terkait hal lain, termasuk mengenai BUMK itu bukan ranah kami lagi untuk menjawab,” ujarnya lagi.
Ia menekankan bahwa keberadaan air murni dan keanekaragaman flora endemik tidak akan bertahan tanpa adanya tutupan pohon yang rindang. Oleh sebab itu, program petualangan hiking yang disiapkan tidak sekadar menjual keindahan panorama, melainkan mengajak wisatawan berpartisipasi langsung dalam aksi penanaman kembali anggrek serta menjaga hutan dari ancaman pembabatan liar dan api.
“Besar harapan kami, melalui penguatan fungsi ekowisata ini, masyarakat Tubaan diharapkan mampu memetik keuntungan ekonomi yang berkelanjutan tanpa harus merusak fondasi lingkungan yang menjadi sumber kehidupan mereka kedepan,” papar Samsiah sekaligus menjawab pertanyaan. (Nht/Bintang)