Oleh: Zulkifli Randa, Dosen Pendidikan Sejarah, Universitas Mulawarman
Swarakaltim.com – Udara Kota Samarinda belakangan ini benar-benar menguji kesabaran dan kesehatan pernapasan kita. Walaupun di atas kalender kita sudah mulai memasuki masa peralihan ke musim penghujan, kenyataannya hujan masih sangat enggan turun. Akibatnya, cuaca tetap terik, debu beterbangan, dan yang paling parah: kabut asap menyelimuti kota.
Kalau bicara soal penyebab utama kabut asap, kita semua tahu ini adalah lagu lama. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat pembukaan lahan berskala besar masih terus terjadi. Membakar lahan seolah masih menjadi jalan pintas yang dianggap paling murah dan gampang. Padahal, ancaman denda miliaran rupiah hingga penjara sudah sering disuarakan. Namun, aturan itu seolah tidak memberikan efek jera di lapangan.
Pemerintah dan aparat hukum jelas punya pekerjaan rumah besar untuk menindak tegas para pelaku skala besar ini tanpa pandang bulu. Namun, menunjuk hidung perusahaan atau pembakar lahan di pedalaman saja ternyata belum menyelesaikan masalah. Ada sebuah ironi kejadian yang bikin kita geleng-geleng kepala yang justru terjadi di depan mata kita sendiri, di tengah permukiman warga kota.
Di saat udara Samarinda sedang buruk-buruknya, kebiasaan membakar sampah rumah tangga atau membersihkan ilalang di lahan kosong dengan cara dibakar malah menjadi pemandangan yang wajar di berbagai sudut kota.
Imbauan dari pemerintah daerah untuk tidak menyalakan api sekecil apa pun di musim kering ini seolah hanya dianggap angin lalu. Yang paling membuat gemas, tidak jarang orang yang santai membakar sampah di pekarangannya adalah orang yang sama yang paling keras mengeluh di media sosial atau saat mengobrol di pos ronda: “Duh, pemerintah ini ke mana sih? Asap kok makin pekat, bikin sesak saja!”
Ini adalah sebuah salah kaprah yang berbahaya di tengah masyarakat kita. Ketika ditegur, alasan andalannya selalu sama: “Ah, ini cuma bakar sampah sedikit saja, daun kering kok. Nggak bakal bikin hutan terbakar.”
Masyarakat sering lupa atau meremehkan dampak kumulatifnya. Bayangkan jika ratusan bahkan ribuan rumah tangga di Samarinda melakukan hal yang sama di hari yang sama. Asap “sedikit” dari tiap rumah itu akan menumpuk di udara dan membuat kualitas udara kota kita makin beracun. Belum lagi jika kita memperhitungkan faktor angin kencang yang bisa dengan mudah menerbangkan percikan api ke lahan kosong atau bangunan di sekitarnya.
Menghadapi kondisi udara yang belum juga membaik ini, penanganan tidak bisa hanya mengandalkan petugas pemadam kebakaran yang bertaruh nyawa memadamkan api di lapangan. Butuh kesadaran kolektif dari kita semua sebagai warga kota.
Sebagai masyarakat yang teredukasi, kita harus tahu diri dan mengambil peran paling sederhana: hentikan kebiasaan membakar sampah dan rumput sekarang juga, untuk alasan apa pun. Mari kita buang kebiasaan buruk bertindak sebagai “si pemicu asap teriak teriak kena asap”.
Jangan sampai kita terus terjebak dalam kebiasaan yang memalukan ini; sibuk mengeluhkan kabut asap yang bikin sesak dada, padahal tangan kita sendiri yang masih menggenggam korek apinya di halaman rumah.