
TANJUNG REDEB, Swarakaltim.com – Ketergantungan masyarakat terhadap sektor pertambangan kembali menjadi perhatian Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Berau. Melihat kondisi terbaru saat ini, masyarakat di imbau agar tidak hanya berpatok pada pekerjaan di sektor tambang batu bara, melainkan mulai mempertimbangkan sektor lain yang memiliki potensi ekonomi jangka panjang, seperti perkebunan.
Hal itu sebagaimana di paparkan Wakil Ketua I lembaga legeslatif Bumi Batiwakkal, Subroto, dalam perbincangan di kantornya Jl Gatot Subroto, Tanjung Redeb baru baru ini. “Saat ini tambang masih menjadi pilihan utama sebagian besar masyarakat karena dianggap memberikan penghasilan yang relatif tinggi dengan beban kerja yang dinilai lebih ringan dibandingkan sektor lain. Kondisi ini membentuk pola pikir di tengah masyarakat yang cenderung menilai pekerjaan di luar tambang sebagai pilihan kurang menarik,” katanya.
“Sehingga, masyarakat banyak yang fokusnya ke tambang. Karena dianggap potensinya besar dan pekerjaannya juga tidak terlalu berat. Akhirnya pekerjaan lain seperti berkebun menjadi kurang diminati. Padahal apabila di geluti sektor tersebut mampu menjawab perekonomian masyarakat yang berkelanjutan, apabila fokus” ujarnya lagi.
Karena itu lanjutnya, masyarakat perlu mulai mempersiapkan diri menghadapi perubahan struktur ekonomi daerah, terutama ketika produksi tambang mengalami penurunan yang secara otomatis berdampak pada berkurangnya kebutuhan tenaga kerja. Dalam sejumlah perusahaan tambang, lanjutnya, tanda-tanda pengurangan tenaga kerja sudah mulai terlihat. Beberapa perusahaan bahkan dilaporkan memangkas jumlah pekerja secara signifikan seiring dengan turunnya tingkat produksi.
“Kalau produksinya dikurangi, otomatis tenaga kerjanya juga berkurang. Tidak mungkin perusahaan mempertahankan jumlah pekerja yang sama. Ada yang tadinya 1.500 pekerja menjadi 800, bahkan ada yang dari 1.000 menjadi 500,” jelasnya.
Kondisi tersebut, menurut Subroto, harus menjadi sinyal bagi masyarakat untuk mulai mengubah pola pikir terkait pilihan pekerjaan. Sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, masih memiliki peluang besar sebagai alternatif lapangan kerja yang stabil bagi masyarakat Berau. Ironisnya, di tengah kebutuhan tenaga kerja yang tinggi di sektor perkebunan, perusahaan justru kesulitan merekrut pekerja lokal.
“Banyak lowongan kerja yang tidak diminati masyarakat karena pekerjaan di kebun dianggap kurang bergengsi dibandingkan sektor tambang. Sekarang kebun itu justru kesulitan mencari pekerja. Lowongan dibuka, yang melamar sangat sedikit. Padahal kebun juga bisa menghasilkan, hanya saja memang kerjanya lebih berat,” tambah Subroto.
Akibat rendahnya minat tenaga kerja lokal, sebagian besar pekerja di sektor perkebunan akhirnya diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah. Subroto memperkirakan sekitar 70 persen tenaga kerja di perusahaan perkebunan berasal dari pendatang.
“Kalau kita lihat di perusahaan sawit, hampir 70 persen pekerjanya pendatang. Ini bukan karena tidak ada kesempatan, tapi karena orang lokal kurang tertarik” ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut, Subroto berharap masyarakat Berau mulai membuka perspektif baru terkait pilihan pekerjaan. Sektor apapun yang mampu memberikan penghasilan dan peluang ekonomi seharusnya tidak dipandang sebelah mata, terlebih jika peluang tersebut justru dimanfaatkan oleh tenaga kerja dari luar daerah.
“Jangan selalu berpikir harus bekerja di tambang. Kalau ada pekerjaan lain yang bisa menghasilkan, kenapa tidak. Daripada diisi orang luar, lebih baik kita sendiri yang mengambil peluang itu” tegasnya.
Dirinya juga mengingatkan generasi muda Berau untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi masa depan ekonomi daerah yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tambang. Dengan membuka diri terhadap berbagai sektor pekerjaan, masyarakat dinilai akan lebih siap menghadapi perubahan ketika sumber daya tambang tidak lagi menjadi penopang utama perekonomian daerah.
“Melalui imbauan kami, harap masyarakat dapat mulai membangun pola pikir yang lebih adaptif terhadap dinamika dunia kerja. Keberlanjutan ekonomi daerah tidak hanya bergantung pada sektor tambang, tetapi juga pada kesiapan masyarakat untuk mengembangkan dan mengisi peluang di sektor lain yang tersedia,” paparnya seklaigus mengakhiri penjelasan. (Adv/Nht/Bin)