Penulis : Dosen Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (Ns. Andri Praja Satria, M.Sc, M.Biomed)
Swarakaltim.com – Perkembangan kecerdasan buatan tidak lagi berhenti pada pembuatan teks, gambar, atau analisis data. Kini, teknologi tersebut mulai mengambil peran penting dalam salah satu bidang paling menentukan bagi kesehatan global: pengembangan vaksin.
Sebuah tim peneliti dari University of Cambridge, Inggris, melaporkan kemajuan penting dalam riset vaksin berbasis kecerdasan buatan. Mereka mengembangkan kandidat vaksin coronavirus yang komponen aktifnya dirancang melalui simulasi komputer dan pendekatan machine learning. Kandidat vaksin tersebut telah melewati uji klinis tahap awal pada manusia dan dinyatakan aman serta dapat ditoleransi dengan baik pada kelompok kecil relawan sehat.
Vaksin eksperimental itu dikenal sebagai pEVAC-PS. Berbeda dari banyak vaksin yang biasanya dirancang untuk menargetkan satu virus atau satu varian tertentu, pEVAC-PS diarahkan untuk mengenali kelompok virus yang lebih luas, yakni Sarbeco coronavirus. Kelompok ini mencakup SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, virus SARS, serta sejumlah coronavirus pada kelelawar yang dinilai berpotensi berpindah ke manusia.
Kunci dari pendekatan ini terletak pada rancangan super-antigen. Antigen merupakan bagian penting dalam vaksin karena menjadi materi latihan bagi sistem imun. Melalui antigen, tubuh belajar mengenali ancaman sebelum benar-benar bertemu dengan virus penyebab penyakit. Dalam riset Cambridge, AI digunakan untuk membaca data genetik dari berbagai coronavirus yang dikumpulkan melalui program pemantauan global, lalu mencari ciri bersama yang dapat dijadikan target vaksin.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena virus terus berubah. Pada Covid-19, misalnya, kemunculan varian baru membuat vaksin perlu diperbarui agar tetap sesuai dengan virus yang beredar. Pola serupa juga terjadi pada influenza musiman. Karena itu, para ilmuwan semakin tertarik pada konsep vaksin yang lebih luas perlindungannya, bukan hanya mengejar satu varian setelah varian itu menyebar. Kajian di Cellular & Molecular Immunology menyebut pengembangan vaksin pan-coronavirus menjadi salah satu agenda penting setelah pandemi Covid-19 karena risiko kemunculan varian baru dan peristiwa penularan virus dari hewan ke manusia masih terus ada.
Dalam uji klinis tahap awal, vaksin pEVAC-PS diberikan kepada 39 relawan sehat berusia 1850 tahun di fasilitas penelitian klinis NIHR di Southampton dan Cambridge. Vaksin diberikan sebagai vaksin DNA menggunakan sistem mikrojet tanpa jarum. Hasil awal menunjukkan tidak ada efek samping serius, sementara respons imun terdeteksi terhadap beberapa virus dalam kelompok Sarbeco coronavirus.
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa hasil ini belum berarti vaksin tersebut siap digunakan masyarakat. Uji fase awal terutama bertujuan memastikan keamanan, bukan membuktikan efektivitas mencegah penyakit dalam populasi luas. Penelitian lanjutan dengan jumlah peserta lebih besar diperlukan untuk menilai apakah respons imun yang terbentuk cukup kuat, bertahan lama, dan benar-benar mampu memberi perlindungan klinis.
Kemajuan ini memperlihatkan perubahan besar dalam cara ilmuwan merancang vaksin. Jika sebelumnya pengembangan vaksin banyak bergantung pada proses laboratorium yang panjang dan bertahap, kini AI dapat membantu mempersempit pilihan kandidat antigen sejak awal. Kajian npj Vaccines menjelaskan bahwa machine learning dapat membantu identifikasi epitop sel B dan sel T, memprediksi target imun yang potensial, serta mempercepat proses seleksi kandidat vaksin sebelum diuji di laboratorium.
Namun, AI bukan jalan pintas yang menghapus kebutuhan penelitian biologis. Prediksi komputer tetap harus dibuktikan melalui eksperimen laboratorium, uji hewan, dan uji klinis manusia. Kajian internasional tentang AI dalam riset vaksin juga mengingatkan adanya tantangan besar, seperti variasi kualitas data, risiko bias algoritma, keterbatasan regulasi, kebutuhan transparansi model, serta pentingnya memastikan teknologi baru tidak hanya menguntungkan negara atau kelompok yang memiliki infrastruktur riset kuat.
Bagi dunia kesehatan masyarakat, riset ini menjadi sinyal bahwa kesiapsiagaan pandemi mulai bergerak dari pendekatan reaktif menuju pendekatan antisipatif. WHO juga telah mendorong riset berbasis keluarga patogen, yaitu mempelajari kelompok virus atau bakteri secara lebih luas agar dunia tidak selalu memulai dari nol ketika wabah baru muncul.
Untuk Indonesia, perkembangan ini memiliki pesan penting. Negara dengan keanekaragaman hayati tinggi, mobilitas penduduk besar, serta interaksi manusia-hewan yang luas perlu memperkuat surveilans genomik, bioinformatika, laboratorium virologi, riset imunologi, dan jejaring uji klinis. AI dapat menjadi alat bantu yang kuat, tetapi manfaatnya hanya akan terasa jika didukung data berkualitas, peneliti lintas disiplin, tata kelola etik, dan kapasitas produksi vaksin yang memadai.
Dengan demikian, vaksin rancangan AI bukan sekadar cerita tentang kecanggihan teknologi. Ia adalah gambaran baru tentang bagaimana dunia berusaha belajar dari pandemi Covid-19, bahwa menunggu virus menyebar lalu mengejarnya satu per satu bukan lagi strategi yang cukup. Masa depan vaksin kemungkinan akan ditentukan oleh kemampuan manusia membaca pola ancaman lebih awal, merancang perlindungan lebih luas, dan memastikan inovasi tersebut dapat diakses secara adil oleh masyarakat global.(*/sk)