SAMARINDA, Swarakaltim.com — Upaya mencegah anemia pada santri putri mulai dikembangkan melalui pemanfaatan potensi pangan yang tersedia di lingkungan pesantren. Tim dosen Universitas Mulawarman (Unmul) menggagas pengembangan “Mie Santri” berbahan dasar sayuran hidroponik pesantren sebagai bagian dari model kemandirian gizi untuk mendukung kesehatan santri putri Pondok Tahfiz Putri MTs–MA Luqman Al Hakim, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Model Kemandirian Gizi Pesantren melalui Produksi Mie Hijau Berbasis Hidroponik Sawi dan Selada untuk Pencegahan Anemia Santri Putri.”

Sebagai tahap awal, puluhan santri putri mengikuti edukasi mengenai anemia sekaligus diperkenalkan dengan potensi gizi kebun hidroponik yang selama ini dikelola secara mandiri oleh pihak pondok.
Program yang didanai melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan Nomor Kontrak 663/DST/UN17.L1/PM.01.01/2026 tersebut diketuai Nurul Afiah, S.Gz., M.Kes., dosen Program Studi Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unmul.
Ia didampingi Ika Wirya Wirawanti, S.Gz., M.Si., Dietisien, dari program studi yang sama, serta Nuzlul Musdalifah, S.TP., M.Si., dari Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian Unmul. Pelaksanaan program juga melibatkan mahasiswa Program Studi Gizi FKM Unmul, yakni Anindhita Reva Agustin, Keisha Syafrilia dan Nayla Najwa Khairina.
Perhatian terhadap anemia menjadi penting karena para santri putri menjalani aktivitas harian yang cukup padat. Selain pembelajaran formal, mereka juga mengikuti setoran hafalan Al-Qur’an dan berbagai kegiatan ibadah dalam sistem pendidikan berasrama.
Dalam kondisi tersebut, kebutuhan makan santri dikelola secara terpusat oleh pihak pondok. Artinya, kualitas dan keberagaman makanan yang dikonsumsi setiap hari memiliki kaitan penting dengan kesehatan, kebugaran hingga konsentrasi belajar santri.

Diskusi awal tim pengabdian dengan pengelola pondok juga menemukan masih adanya santri yang mengalami keluhan seperti mudah lelah, pusing dan menurunnya konsentrasi belajar yang mengarah pada gejala anemia.
Kondisi itu diperkuat hasil riset sebelumnya pada 2023 yang mencatat 49,3 persen santri di pondok tersebut mengalami anemia, dengan kadar hemoglobin berada pada rentang 5,6 hingga 11,3.
Pola makan yang cenderung monoton dan didominasi karbohidrat, sementara asupan zat besi, folat dan vitamin masih terbatas, menjadi salah satu perhatian dalam program tersebut.
Kebun Hidroponik Jadi Modal “Mie Santri”
Menariknya, pesantren sebenarnya telah memiliki modal pangan yang dapat dikembangkan untuk mendukung kemandirian gizi.
Di lingkungan pondok terdapat kebun hidroponik sawi dan selada dengan luas sekitar 60–80 meter persegi yang dikelola secara mandiri. Selama ini hasil kebun lebih dikenal sebagai sayuran segar yang dijual ke lingkungan sekitar.
Melalui program ini, tim Unmul mendorong agar keberadaan kebun tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan pangan bergizi bagi santri.
Sawi dan selada kemudian diperkenalkan sebagai bahan yang dapat dikembangkan menjadi produk pangan, termasuk mie hijau berbasis sayuran hidroponik yang menjadi bagian dari konsep “Mie Santri”.
Konsep tersebut diharapkan menjadi jembatan antara potensi pertanian pesantren dengan kebutuhan gizi santri, sehingga pangan yang dihasilkan dari lingkungan sendiri dapat kembali memberikan manfaat bagi kesehatan warga pesantren.
Edukasi Jadi Langkah Awal
Sebelum masuk pada tahapan pengembangan produk, tim terlebih dahulu memberikan edukasi kepada para santri. Kegiatan diawali dengan pretest untuk mengukur pengetahuan awal peserta mengenai anemia.
Penyuluhan kemudian diberikan secara interaktif, mulai dari pengertian anemia, faktor risiko, dampaknya terhadap kesehatan dan prestasi belajar hingga langkah-langkah pencegahannya.
Leny Eka Tyas Wahyuni, S.Gz., M.Si., menyampaikan materi mengenai anemia pada remaja, sementara Nuzlul Musdalifah, S.TP., M.Si., memberikan materi mengenai pemanfaatan hidroponik.
Santri juga diajak mengenal lebih dekat potensi kandungan gizi sawi dan selada hasil kebun hidroponik pondok, termasuk zat besi non-heme, folat dan berbagai mikronutrien yang berperan dalam mendukung pembentukan sel darah merah.
Diskusi kemudian diarahkan pada pola konsumsi santri sehari-hari. Kegiatan ditutup dengan posttest untuk mengetahui perubahan tingkat pemahaman setelah peserta memperoleh edukasi.
Perbandingan hasil pretest dan posttest menunjukkan adanya peningkatan pemahaman santri mengenai anemia dan pentingnya pola makan bergizi. Hasil tersebut sejalan dengan target program yang menetapkan minimal 80 persen peserta mengalami peningkatan skor pengetahuan.

Yang tidak kalah penting, santri mulai melihat kebun hidroponik di lingkungan pondok dari perspektif berbeda. Kebun tersebut tidak hanya menjadi tempat menghasilkan sayuran untuk dijual, tetapi juga memiliki potensi menjadi bagian dari sistem pangan sehat yang mendukung kebutuhan gizi santri.
Menuju Pesantren Mandiri Gizi
Pengelola Pondok Tahfiz Putri Luqman Al Hakim menyambut baik kegiatan edukasi tersebut. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan santri dalam memilih dan mengonsumsi makanan sehari-hari.
Kegiatan ini sekaligus menjadi fondasi awal sebelum program berlanjut pada tahapan pengembangan “Mie Santri” berbasis hasil hidroponik pesantren.
Dengan pendekatan tersebut, program tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan santri mengenai anemia, tetapi juga membangun model kemandirian gizi yang memanfaatkan sumber daya yang sudah dimiliki pesantren.
Pada akhirnya, kebun hidroponik diharapkan tidak berhenti sebagai komoditas yang menghasilkan sayuran, tetapi berkembang menjadi bagian dari ekosistem pangan pesantren yang sehat, produktif dan berkelanjutan.
Program ini turut mendukung pencapaian SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), sekaligus memperkuat kesadaran gizi generasi santri sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.(*sk)