Pemenang lomba film
SAMARINDA, Swarakaltim.com – Layar Temindung Creative Hub (TCH), eks Bandara Temindung Samarinda, menjadi saksi semaraknya kreativitas sineas dari berbagai daerah. Sebanyak 111 film ikut ambil bagian dalam Festival Film Akhir Pekan (FFAP) 2026, bahkan dua karya dari Brasil turut mewarnai festival yang digelar Dinas Pariwisata Kalimantan Timur tersebut.
Rangkaian FFAP 2026 kemudian ditutup melalui Malam Anugerah Festival Film Akhir Pekan, Sabtu (29/8/2026) malam.
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Muhammad Faisal mengatakan, tingginya partisipasi peserta menjadi kebanggaan sekaligus sinyal positif bagi perkembangan ekosistem perfilman di daerah.
“Saya bangga FFAP kali ini diikuti 111 film dari berbagai kota di Indonesia, bahkan ada dua film dari Brasil. Ini memantapkan kami untuk terus konsisten menggelarnya untuk waktu-waktu yang akan datang,” ujar Faisal.
Menurutnya, FFAP tidak hanya dirancang sebagai ajang mencari pemenang. Lebih dari itu, festival menjadi ruang bertemunya para sineas untuk saling mengenal, berdiskusi, bertukar pengetahuan, berbagi pengalaman hingga memperluas jejaring.

Semangat tersebut, kata Faisal, penting untuk membangun ekosistem perfilman yang tidak berhenti pada kompetisi.
“Selamat dan sukses untuk para pemenang. Bagi yang belum beruntung, jadikan ini wadah untuk saling berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan sesama untuk evaluasi ke depan,” katanya.
Setelah melalui proses penilaian, malam anugerah FFAP 2026 akhirnya mengumumkan karya-karya terbaik dari para peserta.
Untuk kategori Umum, film “Tanpa Bisikan” dari Bontang berhasil meraih penghargaan tertinggi.
Kategori Mahasiswa dimenangkan film “Siti’s Promise” dari Tenggarong.
Sementara kategori Pelajar diraih film “Sampai Jumpa Di Luasnya Samudra” dari SMAN 10 Samarinda.
Sedangkan penghargaan khusus Mention Juri diberikan kepada film “Betarsul” dari Tenggarong.
Menariknya, para pemenang datang dari latar belakang dan daerah yang berbeda. Hal tersebut memperlihatkan bahwa geliat perfilman Kaltim tidak hanya tumbuh di satu kota, tetapi mulai menyebar dan berkembang di berbagai daerah.
Bagi kalangan pelajar dan mahasiswa, keberadaan festival juga membuka ruang untuk berani memproduksi karya dan menguji gagasan melalui medium film.

Faisal mengatakan, perjalanan sebuah film tidak berhenti ketika penghargaan diumumkan.
Menurutnya, proses bertemu dengan sineas lain, menyaksikan karya peserta, mendapatkan masukan dari juri serta berdiskusi justru menjadi bagian penting dari pembelajaran.
Karena itu, peserta yang belum mendapatkan penghargaan tetap didorong untuk membawa pulang pengalaman dari festival dan menjadikannya bahan evaluasi untuk karya berikutnya.
Semangat tersebut menjadi salah satu alasan Dispar Kaltim berkomitmen menjaga keberlanjutan FFAP.
Dengan semakin banyak karya yang masuk, semakin beragam pula cerita yang dapat muncul dari para sineas.
Dan dari ruang-ruang kreatif seperti inilah, menurut Faisal, ekosistem perfilman daerah dapat terus tumbuh.
Tidak berhenti pada film, malam anugerah juga menjadi momentum pengumuman pemenang Lomba Foto dan Vlog Pariwisata.

pemenang lomba foto
Pada kategori foto, Khofifah Nurul Azizah dari Samarinda meraih Juara I.
Juara II diraih Taufiq Septiawan dari Samarinda, sedangkan Juara III diraih Alief Rahmat Dzakhwan dari Berau.

pemenang lomba foto
Untuk kategori vlog, Juara I diraih Rendra Pratama dari Balikpapan.
Juara II diraih Deslia Dela O.M dari Sangatta, sedangkan Juara III diraih Budi Hartono dari Samarinda.
Kehadiran lomba foto dan vlog memperluas ruang kreativitas peserta untuk mengemas potensi pariwisata Kaltim melalui perspektif visual yang lebih dekat dengan generasi digital.
Destinasi wisata, budaya, kehidupan masyarakat hingga berbagai potensi daerah dapat dikemas menjadi cerita yang lebih menarik melalui foto, video pendek maupun vlog.
Dengan begitu, kreativitas anak muda tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari promosi pariwisata Kalimantan Timur.
Bagi Faisal, capaian FFAP 2026 menjadi alasan untuk terus melanjutkan festival tersebut.
Keikutsertaan 111 film dari berbagai kota di Indonesia, ditambah dua film dari Brasil, menunjukkan bahwa ruang kreatif yang dibangun di Kaltim mulai mendapatkan perhatian lebih luas.
Temindung Creative Hub pun bukan sekadar menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan.
Ruang tersebut menjadi titik temu bagi sineas, pelajar, mahasiswa, komunitas kreatif dan pegiat pariwisata untuk bertukar gagasan dan membangun jejaring.
“Terima kasih dan sampai jumpa di Festival Film Akhir Pekan tahun depan,” ujar Faisal menutup rangkaian FFAP 2026.
Malam anugerah akhirnya usai. Piala dan penghargaan telah menemukan pemiliknya.
Namun, bagi para sineas, cerita belum berakhir.
Dari Temindung, karya-karya baru diharapkan kembali lahir. Membawa cerita dari Kaltim, bertemu dengan penonton yang lebih luas, dan membuka kemungkinan bahwa suatu hari nanti film-film dari Benua Etam tidak hanya tampil di festival daerah, tetapi juga melangkah lebih jauh ke panggung nasional dan internasional.(dho)