Nostalgia Menjala, Jaang Pun Tercebur di Long Pahangai

Sambungan: Syaharie Jaang Hadiri Hudoq Cross Border di Kampung Kelahirannya, Mahulu (2)

MAHAKAM ULU, Swara Kaltim – Kesempatan emas ‘pulang kampung’ ke Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) bagi walikota Samarinda Syaharie Jaang terasa spesial karena bersama isterinya Puji Setyowati yang sejak menikah 29 tahun silam baru ini mau diajak. Tak ayal Jaang pun ketika matahari terbit milir atau pergi meninggalkan Ujoh Bilang Long Bagun untuk ke kecamatan Long Pahangai kampung masa kecilnya silam.

SETELAH disuguhi keindahan tebing Batu Dinding yang menjadi ikon wisata kabupaten termuda di Kaltim ini sewaktu hari pertama kedatangan ke Ujoh Bilang kecamatan Long Bagun ibukota Kabupaten Mahulu, kemudian rombongan ‘wisatawan’ Samarinda juga menikmati eksotika wisata alam ketika melusuri di sepanjang penghuluan Sungai Mahakam, dengan menyaksikan keindahan dan perpohonan kayu, beberapa jenis anggrek alam hingga batu-batu alam yang menghampar di sungai dan tebing bebatuan yang sangat alami.

Tidak hanya menikmati keindahan pesona alam dan sensasi jeram atau riam dari speedboat. Jaang bersama isteri dan rombongan lainnya pun penasaran untuk bermain-main, terlebih Jaang untuk kembali bernostalgia di bumi kelahirannya yang sudah ditinggalkan merantau bersekolah ke Melak Kutai Barat saat duduk di bangku kelas 2 SMP.

Tepatnya di Naha Kitaan, Jaang bernostalgia bersama rombongan. Mulai berenang, berjalan dari batu ke batu hingga melunta (menjala, red) ikan. Naha Kitaan adalah suatu daratan yang muncul saat air surut.

“Kenapa diberi nama naha kitaan. Naha itu artinya karangan atau dataran yang muncul saat air sungai surut. Kalau kitaan itu nama salah satu binatang yang ada di ulu riam, sejenis macan kumbang. Ceritanya dulu batu yang besar disitu dijadikan binatang kitaan untuk menyebrang dan melompat ke sungai sebelah,” terang Kabag Umum Setkab Mahulu FX Lawing saat mendampingi rombongan.

Untuk menuju ke Naha Kitaan ini dari dermaga Ujoh Bilang dengan menggunakan speedboat kurang lebih 1 jam. Dari Naha Kitaan, seusai puas di sini, kemudian rombongan menuju Air Terjun Jantur Keneheq (Kenheq, red) sekitar 1 jam 30 menit. (Bagaimana serunya air terjun ini dan goncangan riam-riam yang dilalui, baca tulisan selanjutnya).

Kemudian, setelah puas dan lelah bermain di Naha Kitaan dan air terjun Keneheq, rombongan singgah makan di rakit atau warung makan terapung Tiga Saudara kampung Long Nyaan kecamatan Long Pahangai.

Tapi tiba-tiba saat baru menyelesaikan makannya, Jaang mendengar ada suara lompatan ikan. Kemudian Jaang mengambil jala. “Penasaran. Tadi waktu di Naha Kitaan, ndiknda jukutnya (tidak ada ikannya, red). Mudahan di sini dapat,” ucap Jaang bersemangat. “Nanti dikira bini, pura-pura aja bisa menjala, karena ndik dapat jukutnya,” timpal Jaang lagi.

Di atas rakit, Jaang pun berpindah-pindah posisi. Sempat 3 kali pindah dan putus asa karena tidak dapat juga. Namun, ketika rombongan kepala Perwakilan BPK RI Kaltim Dadek Nandimar speedboatnya merapat ke warung makan terapung menghampiri Jaang, akhirnya Jaang kembali bersemangat.

Lemparan kali ini akhirnya membuahkan hasil. Jalanya mampu menghasilkan beberapa ikan. Kemudian Jaang pun senang, dan Dadek pun mengabadikan Jaang sambil menunjukkan ikan di dalam jala. Rombongan Dadek akhirnya meninggalkan warung terapung untuk menuju ke air terjun Keneheq yang menjadi destinasi wisata andalan.

Masih penasaran dan kurang puas dengan tangkapannya. Jaang kembali melunta. Namun naas, ketika Jaang selesai melemparkan jalanya, dan tidak bisa menjaga keseimbangan, akhirnya Jaang pun tercebur di sungai perairang kecamatan Long Pahangai ini.

Tapi kemudian tetap semangat berenang menepi naik kembali. Setelah sampai di atas rakit, sambil berjongkok dan menepuk-nepuk sungai dengan tujuan memanggil ikan. Setelah itu Jaang pun menarik jalanya, alhasil kembali lebih banyak dan besar ikan diraihnya. (bersambung/kmf2)

Penulis/Editor: Doni

Bagikan:

Related posts