Terkenal di Sekolah Anak Brandal, Lulus STM Automotif Sukses Jadi General Manager

VERLY: KESABARAN DAN KELUAR ZONA AMAN

TERKADANG kita perlu sadari, dalam kehidupan pasti roda selalu berputar dan inilah sering dilontarkan oleh masyarakat umum. Apa yang kita tanam pasti kita menuainya dan perjuangan hidup sudah dipastikan tajam dan berliku, hanya kesabaran dan semangat pantang menyerah inilah menjadi semangat dalam merubah diri kita sendiri.
Dan pengalaman pribadi General Manager Hotel Zoom Samarinda Verly Herman sebelum meraih sebagai jabatan tertinggi di perhotelan, semasa sekolah dia (red, verly herman) selalu membuat ulah, sehingga tingkat keberandalannya dikenal kawan maupun lawan di sekolahnya, bahkan dia berani mengubah anggota tubuhnya dengan tato.
“Semasa sekolah saya selalu bersikap arogan dan tidak sabar diri, sehingga pihak orang tua pun terkadang marah pada saya,” lanjut Verly saat ditemui tim swarakaltim di Hotel Zoom Samarinda belum lama ini.
Bahkan akunya orang tuanya bilang, jika dia tidak mau merubah sikap dalam dirinya, sudah dipastikan tidak sukses.
Namun dikarenakan masih anak remaja yang pada umumnya pasti agak sedikit brutal khususnya pria, dan selama masa – masa itu tidak satu pun bentuk narkoba dia coba selain minuman keras.
“Bagi saya narkoba merupakan benda yang kejam daripada pisau tajam, sedangkan minuman keras itu hanya sebatas kesenangan sementara,” tuturnya.
MODAL 10 RIBU
Orang tua selalu berharap anaknya bisa maju dan sukses dalam hidupnya, dan dengan beragam upaya dilakukan untuk memberikan jalan menuju kesuksesannya.
Terutama  Hurmaini, SH ayah dari Verly Herman ini mengharapkan agar anak – anaknya, melihat kelakuan Verly Herman tentunya sang ayah sangat bersedih dan berucap “Sebaiknya setelah lulus sekolah kamu pergi ke Batam,” seraya menyodorkan selembar uang sepuluh ribu.
“Dalam pikiran saya ini merupakan tantangan, dengan 10 ribu bisa hidup  di kampung orang, dan tentunya apa yang telah di ucapkan ayah saya, bahwa lelaki biar tidak punya uang akan berpikir dalam memperjuangkan hidupnya itu memang benar,” ujar Verly.
Walaupun hal itu tidaklah mudah seperti apa yang dibayangkan, ia terkadang sempat berpikir orang tuanya tega.
Namun seiring berjalannya waktu akhirnya bisa berhasil dan tentunya penuh cobaan yang penuh kesabaran dan niatan ingin mengubah hidup yang lebih baik lagi.
BERAWAL DOOR MAN HINGGA SPV
Ia mengutarakan berkat bantuan saudara, dapat bekerja di sebuah hotel dan tentunya tidak bergaji selama tiga bulan lamanya.
“Sebenarnya pihak perhotelan tersebut tidak membutuhkan tenaga kerja, karena sudah mencukupi, dan atas desakan saudara saya yang kebetulan orang lama yang bekerja di hotel tersebut, maka saya diterima dengan catatan tidak mendapatkan gaji,” ungkapnya.
“Dan Saya pun menerima pekerjaan tersebut sebagai door man, dalam pekerjaan ini pun masih diberikan cobaan kesabaran, karena senior saya selalu menghina bahkan ketika tamu yang berkelas terkadang diambilnya,” katanya.
Ucapan yang terlontar dari senior di tempat kerja “Untuk orang berkelas jatah kami, sedangkan yang berpenampilan biasa untuk kamu,” pernah terbesit orang suka menghina dan mengambil tamu benefit, sungguh melatih kesabaran.
“Terkadang ada rasa ingin melakukan tindakan kekerasan ke senior saya, namun saya diberikan nasehat oleh ibu saya bahwa tindakan itu tidak baik bahkan bisa menghancurkan masa depan dan cita – cita saya,” paparnya.
Teringat sewaktu sekolah, bahwa dirinya ini bukan orang yang sabar dan selalu berkelahi dengan orang yang mengganggu atau tidak senang. “Tapi ini saya sudah dihina, terutama saya ini tidak bisa berbahasa Inggris dan sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan,” tuturnya.
Seiring berjalan tiga bulan, di bulan ke empat ia mendapatkan honor pertama kali yakni Rp 350.000,- (tiga ratus lima puluh ribu rupiah), dan sangat bersukur kala itu, kemudian ia infokan ke ibunya bahwa mendapatkan honor pertama kali.
Dengan halus ibunya mengatakan untuk terus berjuang hingga menjadi orang sukses, dan buktikan ke semua orang bahwa bisa mengubah hidup yang lebih baik dan layak.
“Dengan adanya ibu memberikan saya motivasi ini, membuat saya berjanji dalam diri saya untuk bekerja dengan sungguh – sungguh,” katanya.
“Pernah sekali senior saya kecolongan adanya tamu elit, dan kebetulan saya yang menerima, namun setelah saya melaksanakan tugas pengantar tamu ke kamar hotel dan diberikan tips 100 ribu pada waktu itu, senior saya menghampiri dan meminta ke saya uang tips itu, dan saya pun mau tidak mau menyerahkan, saya pun hanya menahan sabar saja,” kesahnya.
Ia mengutarakan dengan gaji yang kecil bisa menyisipkan dana untuk belajar bahasa Inggris dan setelah bekerja selama 2 tahun saya mendapatkan beasiswa dari perusahaan untuk kuliah perhotelan di Batam , guna menghadapi tamu dari luar negeri.
“Dan akhirnya setelah mengikuti kuliah selama 3 tahun, saya mendapatkan gelar Ahli Madia Pariwisata,” ungkapnya.
Pria kelahiran di Lampung ini menambahkan berkat doa dari orang tua dan kesabaran serta kebesaran hati, akhirnya bisa menjadi Supervisor (Spv), dan teman – teman yang pernah merendahkannya merasa heran bercampur tak percaya jika diangkat sebagai Spv.
“Dahulunya teman- teman senior selalu ngebully, dan di saat saya menjabat Spv mereka kan di bawah saya, namun saya tidak pernah dendam apalagi membalas apa yang pernah mereka lakukan ke saya,”ucapnya.
Bahkan sebutnya mereka meminta maaf kepadanya atas hal itu, dan berkata hanya sebatas pengujian diri. “Saya bilang lupakan masa lalu dan mari kita benahi bersama guna meningkatkan pendapatan hotel,” jelasnya.
Raih General Manager Hotel
Pria lulusan STM ini kembali bercerita bahwa setelah menjalani kehidupan di hotel selama dua tahun, ada rasa ingin untuk bisa meningkat lebih tinggi lagi, namun bagi Verly untuk duduk sebagai jabatan tinggi di Hotel, harus keluar dan melamar di hotel lain.
Tentu tidak lah mudah mesti melalui proses yang panjang dan penuh perjuangan.
“Untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi ini, mesti keluar dari zona aman, dan pastinya sudah banyak hambatan yang akan saya hadapi nantinya,” imbuhnya.
Ia mengaku pernah terpikir apakah mampu dan berhasil jika  keluar dari hotel tempatnya berkerja ini, namun dengan tekad yang kuat dan percaya adanya Tujan yang selalu membantu umatnya, maka ia pun mencoba melamar di sebuah hotel berbintang yakni Novotel di Lampung.
Tidak hanya di satu hotel saja dia menjabat, namun berpindah ke beberapa hotel lainnya, hingga saat ini dipercaya untuk mengelola Hotel Zoom Samarinda.
“Awalnya Hotel Zoom Samarinda tidak seperti ini, dan pertama kali saya datang ke hotel ini terkesan biasa saja, sama pada hotel umumnya,” katanya.
“Sehingga saya pun mulai merubah sistem management dan dekorasi di semua ruangan hotel, yang kita lihat penuh dengan mural yang berkesan tidak terlalu formal sehingga akan menarik para pengunjung hotel dari segala lapisan,” ungkpanya.
Ia mengatakan untuk segi penampilan dari karyawan, memberikan kebebasan namun masih katagori sopan dan rapi, dan karyawan pun diberikan peluang untuk berinovasi dalam melayani tamu dengan baik, bahkan jika ada karyawan yang memiliki ide dan gagasan untuk menunjang meningkatkan kwalitas hotel, sudah pasti diharapkan dan jika memang bersifat penting pasti diprioritaskan.
“Sedangkan untuk ruangan, sengaja saya ciptakan agar para tamu tidak merasa sungkan, dalam hal ini saya menanamkan kepada pengujung rasa memiliki dan ingin kembali menginap di hotel ini,” ujarnya.
Verly menambahkan bahwa Hotel Zoom Samarinda nantinya ada penambahan ruangan agar kapasitas tamu yang datang dapat terpenuhi.
“Saat ini para pengunjung Hotel  Zoom Samarinda, sangat menikmati sajian di Rooftop Orion Sky Bar selain menu banyak pilihan juga bisa menikmati alam kota Samarinda dengan view sungai Mahakam yang disertai musik DJ ataupun Akustik,” pungkasnya. (AI)

Bagikan:

Related posts