Belajar ke Rumah Cokelat Sulteng

PALU, Swarakaltim.com – Rombongan Disperindagkop dan UKM Kaltim juga mengunjungi Rumah Cokelat Sulteng. Rumah Cokelat yang menjadi ikon perindustrian dan perdagangan Sulteng itu berdiri sejak 2017. Namun September 2018, Rumah Cokelat Sulteng ikut terdampak akibat gempa dan tsunami yang menghancurkan.

“Awal tahun ini baru selesai direnovasi, dan sebenarnya belum diresmikan oleh Bapak Gubernur Sulteng. Syukur alhamdulillah, Kaltim sudah datang duluan,” kata Kepala Disperindagkop Sulteng Richard Arnaldo, dikutip melalui berita Biro Humas Setprov Kaltim, Jumat (4/6/2021).

Rumah Cokelat ini berada di bawah pengelolaan salah satu UPTD Disperindagkop Sulteng. Mereka juga sudah mendapat bantuan bantuan dua mesin pengolah dari APBN senilai Rp 800 juta dan juga mendapat dukungan APBD Sulteng.

Mereka mengolah hasil kakao petani dari berbagai penjuru Sulteng yang memang dikenal sebagai salah satu penghasil kakao terbesar di Indonesia. 

“Cokelat produksi kami kemudian dibeli dan diolah oleh para pelaku UKM di sini. Mereka lalu membuat produk olahan cokelat dengan berbagai varian rasa yang kemudian dipasarkan melalui outlet Rumah Cokelat Sulteng ini,” beber Richard Arnaldo.

Kepala Disperindagkop dan UKM Kaltim HM Yadi Robyan Noor mengaku sangat tertarik dengan sinergi yang sangat baik antara pemerintah dan pelaku UKM untuk pengolahan cokelat.

Menurut Roby, semua provinsi pasti menginginkan pengembangan produk dengan integrasi hulu dan hilir. Sulteng sukses melakukannya untuk produk cokelat.

 
“Kami akan belajar seperti Sulteng, dimana kita bisa mendapatkan banyak manfaat ekonomi, peningkatan PAD dan serapan tenaga kerja. Mulai dari sentra kakao di hulu hingga pengolahan cokelat di hilirnya. Masing-masing juga menyerap tenaga kerja lumayan banyak,” kata Roby.

Rombongan Kaltim juga mendapat kesempatan untuk melihat proses pengolahan sejak dari pemilihan  biji-biji kakao hingga menjadi produk cokelat.
Para pengusaha Kaltim yang ikut dalam kunjungan ini sangat optimis Kaltim bisa melakukannya seperti Sulteng.

“Kalau mereka belajar ke Swiss, maka kita cukup belajar ke Sulteng. Apalagi kakao Kaltim juga potensial. Nilai lebihnya lagi, kita akan jadi ibu kota negara,” kata  Koordinator Pedagang Kaki Lima Kota Balikpapan  Abdullah Lijar optimis.

Tampak hadir Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop dan UKM Kaltim Hj Henny Purwaningsih dan beberapa pejabat struktural  lainnya.(aya/sk)

Editor : Redaksi

Publisher : Alfian (SK)

Bagikan:

Related posts