SAMARINDA, Swarakaltim.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda resmi memperluas jangkauan program edukasi kebersihan melalui kebijakan desentralisasi ke tingkat wilayah. Langkah taktis ini ditempuh guna memastikan draf perubahan perilaku memilah sampah dari sumber rumah tangga dapat diadopsi secara nyata oleh warga di level kelurahan hingga rukun tetangga demi mengurangi tumpukan residu di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Pemerintah Kota (Pemkot) mengubah pola sosialisasi konvensional dengan cara menyebarkan draf jadwal pelayanan sedekah sampah ke sembilan sektor kecamatan di Kota Tepian. Melalui draf pendekatan ini, masyarakat diajak secara aktif untuk mengumpulkan dan memilah komoditas limbah domestik mereka sebelum dibawa ke tempat pembuangan sementara, sehingga tidak ada lagi sistem tumpuk yang memicu bau tidak sedap.
“Pak Wali tadi juga berpesan khusus kaitannya dengan keberlanjutan tentang tukar sampah dengan sembako ya. Sejauh ini kita sudah komunikasi dengan beberapa donatur. Ya akan terus berlangsung,” kata Plt Kepala DLH Kota Samarinda, Suwarso.
Suwarso menjelaskan bahwa draf formula pemberian paket sembako yang berisi kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan gula tersebut akan terus disesuaikan dengan draf ketersediaan kuota dari para donatur swasta. Kemitraan strategis melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini diposisikan sebagai jaring pengaman sosial, di mana hasil pengumpulan limbah kering akan dikonversi menjadi draf bantuan pangan.
Untuk tahap awal operasional di tingkat kecamatan, otoritas kebersihan menetapkan draf batasan minimal berat setor sebesar setengah kilogram bagi warga yang datang membawa draf jenis sampah bernilai ekonomi tinggi.

Komoditas yang diperbolehkan masuk dalam draf timbangan dwi-mingguan ini dibatasi pada draf kategori sampah kering murni seperti kertas bekas, botol plastik, serta tumpukan kardus.
“Tadi dari Pertamina saya hubungi sudah oke, dari Hermina sudah oke, dan saya komunikasi dengan camat karena sedekah sampah itu kan sekarang di tiap kecamatan,” sambung Suwarso.
Pihaknya sengaja menyisipkan draf nilai sosial keagamaan ke dalam program tata kelola lingkungan ini agar draf kesadaran ekologi kolektif masyarakat dapat tumbuh lebih cepat. Melalui draf perluasan program jaring sosial ini, Pemkot Samarinda optimistis draf volume harian sampah yang dibuang ke lingkungan dapat ditekan secara drastis sejak dari level rumah tangga dengan mengalokasikan hasil sedekah tersebut untuk menyokong kebutuhan draf keluarga miskin.(DHV)