Temuan Stunting Bertambah, TP PKK Balikpapan: Bukan Berarti Kondisi Memburuk

BALIKPAPAN,Swarakaltim.com.                               Bertambahnya temuan kasus stunting di sejumlah wilayah Kota Balikpapan tidak serta-merta menunjukkan kondisi kesehatan anak semakin memburuk. Pemerintah justru melihat peningkatan tersebut sebagai tanda bahwa proses pendataan dan deteksi dini di lapangan semakin aktif.

Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud, mengatakan angka prevalensi stunting Balikpapan dalam beberapa tahun terakhir sebenarnya menunjukkan tren penurunan. Angka yang sebelumnya berada di kisaran 22,3 persen turun menjadi sekitar 18 persen dan kembali menurun hingga sekitar 15 persen.

Namun, setelah dilakukan pendataan kembali secara lebih intensif, sejumlah kasus kembali ditemukan. Menurut Nurlena, kondisi tersebut perlu dilihat dari sisi positif karena data yang lebih lengkap membuat pemerintah dapat mengetahui wilayah dan keluarga yang membutuhkan intervensi.

“Banyaknya temuan ini kami bisa mengetahui wilayah mana yang masih membutuhkan perhatian lebih. Kalau tidak ada temuan, bagaimana kita tahu persoalannya ada di mana,” ujar Nurlena, Senin (10/8/2026).

Pendataan dilakukan kader PKK dan Posyandu bersama Dinas Kesehatan melalui pemantauan langsung ke masyarakat. Kunjungan dari rumah ke rumah menjadi salah satu cara untuk memastikan kondisi anak terpantau dan kasus yang membutuhkan penanganan dapat segera diidentifikasi.

Menurut Nurlena, meningkatnya temuan juga menunjukkan bahwa kader semakin aktif melakukan pemantauan. Dengan deteksi yang lebih cepat, intervensi terhadap anak dan keluarga dapat dilakukan sebelum persoalan tumbuh kembang menjadi semakin berat.

Dari pemetaan sementara, Balikpapan Barat menjadi salah satu wilayah dengan temuan stunting cukup tinggi. Kawasan permukiman seperti Sidodadi dan sekitarnya menjadi perhatian dalam penguatan intervensi.

Di tengah keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi, TP PKK mendorong penanganan stunting dilakukan secara gotong royong. Relawan, komunitas, organisasi masyarakat hingga Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang berada di wilayah tersebut diharapkan ikut mengambil peran.

“Kami berharap relawan, komunitas, hingga organisasi perangkat daerah yang berada di lingkungan tersebut ikut bergerak memberikan edukasi kepada masyarakat,” katanya.

Nurlena juga mengingatkan bahwa stunting tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan ekonomi keluarga. Kasus stunting, kata dia, juga ditemukan pada keluarga dengan kondisi ekonomi yang relatif baik.

Oleh karena itu, selain pemenuhan kebutuhan gizi, pola pengasuhan menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian serius. Cara keluarga memberikan makanan, merawat serta memantau tumbuh kembang anak turut menentukan kondisi anak. “Stunting bukan hanya soal ekonomi. Pola asuh sangat menentukan tumbuh kembang anak,” tegasnya.

Hasil pendampingan kader di lapangan juga menunjukkan adanya keluarga yang tinggal bersama keluarga besar, seperti kakek, nenek atau kerabat lainnya. Kondisi tersebut dalam beberapa kasus dapat memengaruhi pola pengasuhan karena terdapat lebih banyak pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan terkait anak.

“Ini menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian selain pemenuhan gizi. Kondisi tinggal bersama keluarga besar terkadang menimbulkan tekanan dalam pengasuhan anak,” pungkas Nurlena.

Adanya pendataan yang semakin aktif, TP PKK Balikpapan berharap penanganan stunting dapat lebih tepat sasaran. Data lapangan yang semakin lengkap menjadi dasar untuk menentukan wilayah prioritas sekaligus memastikan intervensi diberikan kepada keluarga yang benar-benar membutuhkan.(Adv Diskominfo Balikpapan)

www.swarakaltim.com @2024