
TANJUNG REDEB, Swarakaltim.com – Pasca beberapa tahun pembangunan drainase besar besaran diseluruh ibukota sampai ke kecamatan dan perkampungan yang menggunakan konstruksi beton precast, akhirnya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Berau memberi kesimpulan bahwa, konstruksi tersebut tidak berfungsi optimal dalam menangani banjir.
Faktanya, banyak keluhan warga khususnya ibukota yang justru kebanjiran wilayahnya pasca pembangunan drainase dengan beton tersebut. Oleh sebab itu, kedepan Komisi III DPRD Berau kemungkinan besar akan mengubah skema konstruksi beton precast dengan beton manual.
Hal itu ditegaskan oleh Ketua Komisi III bidang pembangunan DPRD Berau Liliansyah saat berbincang disebuah acara tidak resmi beberapa waktu lalu. Menurutnya selama ini pembangunan drainase dengan menggunakan konstruksi beton precast justru mempersempit ruang drainase dan mengecilkan volume air yang akan ditampung oleh drainase tersebut.
“Tidak sedikit warga yang mengeluh pasca pembangunan drainase beton precast tersebut, sebab memang tidak bisa dipungkiri, jika dibandingkan dengan daya tampung parit lama konstruksi beton precast memang lebih kecil dan dangkal, kondisi tersebut belum diperparah dengan sedimentasi endapan lumpur didalam parit yang sulit dibersihkan, sehingga menyebabkan aliran air sumbat dan semakin kecil,“ terang Liliansyah.
Alasan kenapa beliau menyarankan ke Ppmbangunan drainase beton manual, selain tetap bisa menyetel ukuran lebar dan tinggi drainase, untuk pembangunannya juga menyerap lebih banyak tenaga kerja sehingga dari sisi lapangan kerja juga bisa dinikmati oleh warga yang membutuhkan.
“Hal ini akan kami terus pantau setiap ada pembangunan drainase konstruksi beton, jika proyek tersebut masih menggunakan beton precast, maka sebaiknya spesifikasinya diubah menjadi beton manual. Terutama pembangunan drainase di perkampungan,“ pungkas Politikus dari Partai Nasional demokrat (NasDem) tersebut. (Adv/Nht).