Tanjung Redeb, Swarakaltim.com – Pesona wisata di seluruh wilayah Kecamatan Biduk Biduk terus meningkat dan naik daun dimata wisatawan, terutama lokal dan regional, sedangkan wisatawan mancanegara masih bertahap. Setiap musim akir pekan seluruh penginapan di Biduk Biduk, khususnya Kampung Biduk Biduk sampai Kampung Giring Giring selalu penuh. Hal itu membawa berkah tersendiri buat pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) diwilayah tersebut, khususnya penjual kepala muda. Pasak meledaknya wisatawan yang berkunjung disetiap akhir pekan, Mama Elif mengaku dirinya mampu menjual sampai ratusan butir kelapa muda setiap hari.
Hal itu bukan tidak mendasar, sebab semenjak akses darat dari Ibu kota Tanjung Redeb ke Biduk Biduk mulus, seluruh wisata di Kecamatan pesisir tersebut tidak pernah sepi, apalagi sekarang, jalur darat baru yang menghubungkan wilayah Kutai Timur melalui Jembatan Kaubun di daerah karangan juga sudah terkoneksi. Koneksi akses darat ke Kutai Timur tersebut jelas memangkas jarak wisatawan dari arah Kutai Timur, Bontang, Samarinda dan sekitarnya.
Mama elif yang saat ini menjadi satu satunya penjual kelapa muda disekitar wilayah kampung Biduk Biduk selalu diserbu pembeli, bahkan dirinya sering kewalahan menyiapkan pesanan pelanggannya.
“Kalau hari kerja memang standar saja pengunjung yang datang, namun jika weekend, apalagi ada tambahan libur bersama, bisa dipastikan seluruh penginapan di sekitar sini penuh dan full booking dari 2 bulan sebelumnya, makanya saya dan suami selalu siapkan ratusan kelapa segar setiap akhir pekan, “terangnya.
Sebagai penjual kelapa muda yang masih bertahan, rupanya membawa berkas tersendiri buat dirinya dan keluarga, sebab memanfaatkan moment tersebut, dirinya dan suami juga membuka rumah makan ditempat yang sama. Hal itu dirinya ambil sebab setiap pelanggan yang minum kelapa muda miliknya justru menyarankan sekalian buka warung makan.
“Sudah beberapa tahun kami jualan, Cuma memang mulai satu atau dua tahun yang lalu, wisatawan yang datang kesini semakin membludak, apalagi lebaran tahun 2025 lalu, banyak wisatawan yang harus rela tidur di masjid bahkan tidur bertenda dipinggir Pantai karena kehabisan hotel maupun homestay, “tegasnya.
Untuk kelapa biasa dirinya mematok harga Rp 15.000, sedangkan untuk kepala berwarna merah muda dijual Rp 20.000. “Alhamdyulillah, berkat menekuni dan bertahan di bisnis utama kami yakni kelapa muda, akhirnya saat ini memang hanya kami yang jualan disekitar sini, makanya kami bisa menghabiskan ratusan buah kelapa muda setiap akhir pekan, “tutupnya. (Nht).