Bergerak Bersama : Plt Kepala SMAN 3 Marang Kayu, Kornelius Tolek Thalar bersama para siswa saat melakukan kegiatan bersih-bersih lahan di sekitar lingkungan sekolah. (Istimewa)
MARANGKAYU,Swarakaltim.com – Suasana di halaman SMAN 3 Marang Kayu, Kutai Kartanegara, tampak sedikit berbeda. Di beberapa sudut lahan yang sebelumnya kosong, kini mulai tumbuh bibit-bibit pisang.
Tanah yang dulu dibiarkan terbengkalai, perlahan berubah menjadi ruang belajar baru bagi para siswa.
Perubahan kecil itu lahir dari gagasan Kornelius Tolek Thalar, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMAN 3 Marang Kayu yang baru dipercaya memimpin sekolah tersebut sekitar satu bulan terakhir.
Meski masa tugasnya masih singkat, Kornel—sapaan akrabnya—tidak ingin waktu berjalan tanpa makna. Ia langsung bergerak. Baginya, sekolah tidak hanya tempat mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membangun karakter.
Langkah pertama yang dilakukan adalah menghidupkan kembali lahan tidur di sekitar lingkungan sekolah. Latar belakangnya sebagai anak dari keluarga petani membentuk cara pandangnya tentang pendidikan.
Ia percaya, tanah bukan sekadar tempat berpijak, tetapi juga sumber pembelajaran tentang kerja keras, tanggung jawab, dan nilai ekonomi.
Dari situlah ide sederhana itu muncul: menanam pisang. Berbagai jenis pohon pisang mulai ditanam di sekitar area sekolah.
Namun menariknya, program ini tidak hanya sebatas kegiatan penghijauan. Ia menjadikannya sebagai bagian dari pendidikan karakter bagi para siswa.
“Saya sudah sampaikan kepada semua guru di SMAN 3 Marang Kayu. Jika ada siswa yang melakukan pelanggaran disiplin, jangan dihukum secara fisik,” ujarnya.
Sebagai gantinya, setiap siswa yang melanggar aturan cukup membawa satu tunas bibit pisang. Bibit itu kemudian ditanam di lingkungan sekolah. “Jadi setiap pelanggaran disiplin cukup membawa satu bibit tunas pisang untuk ditanam,” kata Kornel.
Pendekatan ini sederhana, tetapi sarat makna. Hukuman tidak lagi bersifat represif, melainkan edukatif dan produktif. Setiap pelanggaran justru menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Melalui cara ini, Kornel ingin membangun kesadaran ekologis sekaligus menanamkan nilai tanggung jawab kepada para siswa. Mereka tidak hanya belajar tentang disiplin, tetapi juga belajar merawat lingkungan.
Di sisi lain, program tersebut juga memiliki dimensi yang lebih luas, yakni mendukung ketahanan pangan. Menurut Kornel, langkah kecil dari lingkungan sekolah dapat menjadi bagian dari gerakan besar yang sedang didorong pemerintah.
“Ini sejalan dengan program ketahanan pangan yang dicanangkan pemerintah dan juga sesuai arahan Plt Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Timur, Bapak Armin,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sumber pangan tidak selalu harus bergantung pada beras. “Makanan sehat itu tidak hanya nasi. Ada banyak alternatif pangan lain, salah satunya pisang,” ujarnya.
Pilihan tanaman pisang bukan tanpa pertimbangan. Selain mudah dirawat, tanaman ini juga relatif cepat berbuah dan tidak memerlukan pengelolaan yang rumit. Jika suatu saat lahan tersebut dibutuhkan untuk pengembangan sekolah, tanaman pisang juga mudah dipindahkan.
Program ini bahkan tidak berhenti di area sekolah saja. Di sekitar lingkungan SMAN 3 Marang Kayu terdapat lahan kosong milik desa yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal. Kornel kemudian berinisiatif berkomunikasi dengan pemerintah desa setempat. Responsnya ternyata sangat positif.
“Di dekat sekolah ada lahan milik desa. Saya sudah berkomunikasi dengan kepala desa, dan beliau menyambut baik,” ungkapnya.
Untuk sementara, lahan tersebut ikut dimanfaatkan sebagai area penanaman pisang agar tidak lagi menjadi lahan tidur.
Langkah ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu dimulai dari ruang kelas. Terkadang, pelajaran justru hadir dari tanah yang digarap bersama.
Dalam waktu singkat, ia mampu menghadirkan warna baru di SMAN 3 Marang Kayu. Ia tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi langsung memulainya dari hal-hal sederhana.
Dari sebatang bibit pisang, ia menanam harapan: tentang karakter, kepedulian lingkungan, dan masa depan generasi muda yang lebih mandiri. (*)