SAMARINDA, Swarakaltim.com – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Samarinda terus membuka ruang kreativitas untuk memperkuat kecintaan terhadap batik lokal. Salah satunya melalui Lomba Busana Kerja Motif Batik Samarinda dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 yang digelar di panggung utama Kaltim Expo Atrium Bigmall Samarinda, Sabtu (22/8/2026).
Bagi Ketua Dekranasda Kota Samarinda, Hj. Rinda Wahyuni Andi Harun, lomba tersebut bukan sekadar ajang menampilkan busana terbaik. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengapresiasi kreativitas sekaligus menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap busana, wastra dan kekayaan budaya daerah.

Menurut Rinda, Samarinda memiliki begitu banyak identitas yang dapat diangkat menjadi inspirasi dalam karya batik. Mulai dari pesut Mahakam, Jembatan Mahakam, Teras Samarinda, aliran sungai hingga berbagai karakter khas daerah lainnya.
“Ini Dekranasda Kota Samarinda membuat batik seperti ini. Ada pesutnya, ada terasnya, ada Jembatan Mahakamnya, tidak lupa ada sungai-sungai dan ikan pesutnya,” ungkap Rinda.

Ia menjelaskan, berbagai identitas tersebut dapat dituangkan ke dalam motif batik sehingga menghasilkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga membawa cerita tentang Samarinda.
Menurut Rinda, unsur khas Samarinda juga tidak harus ditampilkan secara kaku. Bahkan karakter busana kotak-kotak atau Belang Hatta dapat dihadirkan dan dikembangkan menjadi bagian dari identitas dalam karya wastra Samarinda.

Karena itu, ia mendorong agar batik Samarinda tidak hanya dikenakan, tetapi juga dibanggakan, dipromosikan dan terus dilestarikan.
“Ayo saling bergandengan tangan, saling menyatukan satu semangat. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” tegasnya.
Rinda menambahkan, kegiatan serupa bukan pertama kali dilakukan Dekranasda Samarinda. Pada 2024, pihaknya juga pernah menggelar lomba batik dengan rancangan yang dibuat para ibu camat dan pelaku UMKM Kota Samarinda.

Saat itu, antusiasme masyarakat terbilang besar. Peserta mencapai sekitar 800 orang yang berasal dari unsur ASN, kecamatan hingga kelurahan.
“Ini bukan kegiatan pertama kami. Kami pernah melaksanakan juga lomba batik ini pada 2024. Batiknya dirancang oleh para ibu-ibu camat dan UMKM Kota Samarinda. Alhamdulillah diikuti sekitar 800-an peserta,” jelasnya.
Menurutnya, antusiasme tersebut menjadi bukti bahwa batik Samarinda memiliki ruang yang luas untuk terus dikembangkan. Tantangannya adalah bagaimana kreativitas tersebut terus diberikan ruang dan dikenalkan kepada masyarakat secara lebih luas.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Samarinda H. Saefuddin Zuhri mengapresiasi pelaksanaan lomba yang digelar Dekranasda bekerja sama dengan PKK Kota Samarinda tersebut.
Ia menilai peringatan HUT Kemerdekaan RI tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat identitas kebangsaan sekaligus menghargai warisan budaya nusantara.
Menurut Saefuddin, batik merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga sekaligus dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya melestarikan batik, tetapi juga mendorong inovasi agar batik tetap relevan, elegan dan profesional saat digunakan sebagai busana kerja harian,” kata Saefuddin yang hadir bersama istrinya, Wakil Ketua TP PKK Samarinda EL Nova Saefuddin Zuhri.
Ia juga melihat penggunaan batik lokal dapat memberikan dampak lebih luas terhadap ekonomi daerah. Semakin banyak masyarakat menggunakan karya perajin lokal, semakin besar pula ruang bagi UMKM dan pengrajin batik untuk terus berkarya.
“Dengan menggunakan batik, maka menggerakkan ekosistem UMKM dan pengrajin batik daerah agar terus berkarya dan berinovasi,” ujarnya.
Saefuddin berharap lomba tersebut dapat menjadi ruang kebersamaan sekaligus apresiasi kreativitas antarinstansi maupun masyarakat.
“Acara ini saya harapkan tidak hanya memeriahkan suasana saja, tetapi mampu menumbuhkan rasa bangga kita terhadap warisan budaya batik sebagai identitas bangsa,” pungkasnya.
Dalam lomba tersebut, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Samarinda berhasil meraih dua gelar Juara I sekaligus, masing-masing pada kategori pria dan wanita.
Untuk kategori pria, Juara II diraih DP2PA dan Juara III BPKAD. Sementara Harapan I Kecamatan Sungai Kunjang, Harapan II Bapenda, dan Harapan III BPBD.
Pada kategori wanita, Juara II diraih Disporapar dan Juara III PKK. Sedangkan Harapan I Dinas Koperasi dan UKM, Harapan II Kecamatan Sambutan, dan Harapan III Badan Kesbangpol.
Melalui kegiatan tersebut, Dekranasda Samarinda ingin memastikan batik lokal terus memiliki ruang untuk tumbuh. Bukan hanya melalui produksi dan penggunaan, tetapi juga lewat kreativitas dalam mengolah motif, desain dan karakter Samarinda menjadi karya wastra yang semakin dekat dengan masyarakat. (dho)